Guru adalah profesi yang mulia. Berdasarkan survey di acara Metro 10, profesi guru mendapat tempat kedua di bawah profesi seorang dokter. Masyarakat kita juga masih banyak menaruh hormat pada sosok guru. Mendengar kata “guru” tentu membuat hati kita begitu respect, namun jika mendengar kata “menggurui” mengapa perasaan menjadi tak enak?
Menggurui dalam bahasa Indonesia mengandung makna menasehati, mengajari, memberi tahu namun sering dikonotasikan negatif. Menggurui mendapat perubahan makna peyoratif, yaitu kata yang pada awalnya berkesan positif namun lambat laun nilai rasa/kesan dari kata itu menjadi makin terkesan negatif, jelek dan kasar.
Mengapa kita begitu risih mendengar kata menggurui? Jika mengacu pada UU N0 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Maka menggurui adalah proses pemberian ilmu, pengajaran, pembimbingan, pengarahan, penilaian dari seorang subjek yaitu guru kepada objeknya yaitu murid. Kata menggurui mendapat kesan negatif karena dipengaruhi oleh paradigma proses terjadinya kegiatan berguru tadi.
Pada masa lalu orang mendapat ilmu atau pengajaran dari seseorang yang dianggap lebih banyak tahu, seperti seorang filsuf atau budayawan, merekalah yang disebut guru. Mereka berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk memberikan penerangan, orang-orang yang mendengarnya merasa tercerahkan dan memberi imbalan ala kadarnya. Ini yang disebut Eric Ashby sebagai revolusi pendidikan gelombang pertama. Pada perkembangannya para filsuf tadi tidak lagi nomaden tapi menetap di suatu tempat dan orang-orang yang ingin menerima pengajaran menetap di tempat guru tersebut.
Itulah cikal bakal sekolah di masa-masa awalnya. Celakanya, proses pembelajaran yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan tadi masih dipengaruhi oleh cara para filsuf menjelaskan pengetahuannya. Proses transfer ilmu pengetahuan tadi didominasi oleh tradisi lisan para filsuf. Maka siswa diibaratkan sebagai gelas kosong yang dituangkan air dari sebuah teko. Padahal seharusnya pikiran anak selayaknya api yang mesti dinyalakan bukan sebuah wadah yang mesti diisi. Guru akhirnya menjadi satu-satunya pemegang otoritas kebenaran yang membuat istilah menggurui terterima sebagai sebuah istilah yang wajar.
Menarik juga untuk menyimak pengertian guru pada periode sejarah di masa lalu, khususnya di Indonesia. Sosok guru yang merupakan pejabat strukrtural di pemerintahan menjadikan guru disejajarkan dengan aparatur pemerintahan. Boleh anda simak pengertian guru di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Bukan sebuah kebetulan jika istilah pamong juga melekat pada sosok guru dan aparatur pemerintah. Menurut KBBI istilah pamong berarti pengasuh, pendidik (guru), atau pengurus.
Nah, celakanya karena merasa bagian dari aparatur pemerintah (baca:pamong praja) sikap guru cenderung mengikuti gaya penguasa atau siapa yang memerintah.
Alhasil kultur feodal menjangkiti mental sebagaian guru kita kala itu. Pamong praja kita –guru dan aparatur pemerintah- muncul menjadi penguasa-penguasa di ranah kehidupannya masing-masing. Aparat sangat berkuasa di berbagai bidang kehidupan, guru amat sangat berkuasa di kehidupan sekolah. Sayangnya, rakyat pun telah lebih dahulu memaknai pamong praja sebagai penguasa. Mereka keseleo lidah dan salah membedakan arti pamong praja dan pangreh praja.
Hal itu tak terlepas pula akibat kultur masyarakat agraris bangsa ini yang mengagung-agungkan para penyelenggara pemerintahan (ambtenaar) pada masa kolonial. Ketika itu para penyelenggara pemerintah dikenal juga dengan istilah pangréh praja yang berarti penguasa lokal untuk menangani daerah jajahan kolonial. Padahal jelas sekali beda antara pamong praja dan pangreh praja.
Namun sangat disayangkan bahwa banyak di antara guru kita masih bermental penguasa atau setidaknya terlalu akrab bersama penguasa. Pada level pengurus PGRI misalnya, kebayakan didominasi oleh pejabat struktural di lingkungan dinas pendidikan kabupatan/kota. Sudah menjadi rahasia umum bahwa organisasi profesi guru hanya dijadikan tunggangan politik oleh orang-orang tertentu. Guru tak bisa kreatif di organisasi karena selalu menghamba pada juklak dan juknis yang notabene adalah perintah atasannya di tingkat struktural. Kita tak bisa membedakan gerak langkah organisasi macam PGRI sebagai kekuatan penyeimbang pemerintah (bargaining power) karena banyak dari pengurusnya adalah bagian dari struktur pemerintahan itu sendiri.
Epilog
Mustahil mendapatkan guru-guru terbaik apalagi inspiratif jika mentalnya masih bermental penguasa. Padahal kita sudah sangat mahfum dengan pameo yang mengatakan `The mediocre teacher tells, the good teacher explains.
The superior teacher demonstrates, the great teacher inspires'. Terjemahan bebasnya kira-kira begini; guru yang biasa-biasa saja (cenderung) mengajarkan, guru yang baik memberikan penjelasan, guru yang di atas rata-rata (cenderung) memperagakan dan guru yang hebat adalah yang menginspirasi.
Guru yang masih bermental penguasa selalu menempatkan dirinya lebih baik di atas murid-muridnya, ia akan berlaku superior sehingga wataknya tak jauh dari instruksi alias perintah. Maklum akrena masih bertabiat penguasa/pemerintah jadi kerjanya suka memerintah. Kegiatan yang dialkukannya di kelas sebatas mengajarkan, memberi tahu, atau memperagakan. Semuanya itu berpusat pada sang guru tersebut semetara siswa cuma dijadikan objek.
Guru dikatakan sebagai sumber inspirasi tatkala pikiran, ucapan, dan
tindak tanduknya menjadi anutan bagi anak didik dalam memaknai
peristiwa-peristiwa yang ada di sekitarnya dan mamapu menggerakkan siswa untuk melakukan perubahan positif dalam kehidupannya di masyarakat
Mari kita tengok cerita seorang guru yang mampu menginspirasi siswanya. Cerita ini saya cuplik dari tulisan Titik Firawati yang bertajuk “Mencegah Kekerasan Guru” yang mengisahkan kisah inspiratif Prof Emil Salim yang sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan karena terinspirasi dari guru-gurunya terdahulu.
Kepeduliannya itulah yang membuat beliau dipercaya menjabat sebagai menteri lingkungan hidup selama tiga periode berturut-turut (1978-1993).
Suatu ketika salah satu guru Emil Salim, seseorang berkebangsaan Belanda yang sangat peduli terhadap alam, mengajak murid-muridnya, termasuk Emil kecil, pergi ke hutan.
Sesaat hendak menyeberangi sungai, mereka dikejutkan
sekawanan lintah yang akhirnya mengacaukan perjalanan mereka. Dengan ketelatenannya, guru tersebut mengajak murid-muridnya berhenti sejenak untuk memahami apa makna dari pertanda alam itu. Diletakkannya seekor lintah di atas daun, kemudian, ia meminta murid-muridnya memperhatikan perilaku pacet tersebut. Alhasil, kepala pacet itu selalu bergerak-gerak menghadap ke arah datangnya sinar matahari.
Lantas, ia menjelaskan sembari berpesan agar murid-murid tidak perlu
khawatir setiap kali tersesat di hutan karena pacet bisa dijadikan
sebagai kompas alami.
Kecintaannya terhadap alam dan ketelatenannya mendidik murid-murid
membuat Emil kecil menaruh rasa hormat pada gurunya. Bahkan, Emil kecil
dan teman-temannya semakin menyayangi guru tersebut yang telah berhasil
membukakan alam pikiran dan mata hati mereka dalam memaknai peristiwa
peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Dedikasi guru itulah yang juga mengantarkan Emil kecil menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam bidang lingkungan hidup di Indonesia.
Senin, 28 November 2011
Jumat, 25 November 2011
Membantu Siswa Memaknai Kesetiakawanan Sosial
| Siswa-siswi SDI Binakheir Depok saat Charity Day |
Diawali dari pembentukan Kementerian Sosial sebagai salah satu lembaga yang dibentuk pasca proklamasi 17 Agustus 1945 yang bertugas mengurusi masalah-masalah yang berhubungan dengan kesejahteraan rakyat. Founding father kita juga telah menaruh perhatian terhadap masalah sosial di antaranya soal fakir miskin dan anak terlantar yang harus dipelihara oleh negara seperti yang tertuang pada pasal 34 UUD 1945 hasil rumusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) kala itu.
Setelah republik berdiri dan masih tertatih akibat agresi militer kedua pada 19 Desember 1948, pemerintahan darurat berlangsung di Yogyakarta. Sehari setelah agresi itu tepatnya tanggal 20 Desember 1948 ribuan rakyat berbondong-bondong mengerahkan segala daya upaya untuk mempertahankan berdirinya republik. Petani di desa memberikan dukungan logistik, menampung pengungsi dari kota, menyediakan rumahnya sebagai markas komando gerilya bahkan ikut serta berperang.
Kaum Ibu dan gadis belia menyelenggarakan dapur umum lapangan bagi para pejuang maupun pengungsi, mendirikan pos-pos kesehatan, menjadi perawat bahkan ikut sebagai anggota kelaskaran.
Mereka yang tidak ikut berperang membantu menyediakan logistik dan permakanan, apa saja yang mereka miliki dipersembahkan secara tulus ikhlas, seperti menyediakan kendi dan nasi bungkus, jagung dan umbi-umbian yang mereka miliki, para pelajar ikut bertempur, mulai sebagai kurir, petunjuk jalan bahkan menjadi mata-mata bagi pejuang, prinsipnya berjuang terus mempertahankan republik tercinta.
Berangkat dari peristiwa itulah tanggal 20 Desember diperingati sebagai Hari Sosial, lalu berubah menjadi Hari Kebaktian Sosial Nasional dan belakangan ketika Menterinya dijabat oleh Nani Soedarsono, S.H. berubah menjadi Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN).
Kesetiakawanan Masa Kini
Jaman telah berubah, Indonesia kini tak lagi berada dalam keadaaan darurat perang. Bercermin dari peristiwa sejarah, setidaknya ada beberapa nilai-nilai yang masih relevan dalam konteks kekinian yaitu semangat persatuan, kesatuan, kegotongroyongan dan kekeluargaan rakyat Indonesia
Saat ini bangsa Indonesia mengalami masalah sosial yang tak penah habis yakni berkaitan dengan kesejahteraan terutama kemiskinan. Jumlah penduduk miskin yang kian meningkat, tumbuh suburnya kriminalitas karena tiadanya lahan pekerjaan dan perilaku sebagian masyarakat yang memamerkan kemewahan dengan telanjang di hadapan rakyat yang masih miskin dan kelaparan.
Lihatlah perilaku sebagian anggota DPR yang tidak lagi mencerminkan sebagai wakil rakyat. Mustahil bila rakyatnya miskin -tak bisa makan beras pulen hanya bisa makan nasi aking- sementara wakilnya mengendarai mobil mewar sekelas Bentley dan Hammer yang harganya mendekati angka milyaran rupiah. Logikanya rakyat harus lebih sejahtera dibanding wakilnya sebab direktur lebih tinggi gajinya daripada wakil direktur, presiden lebih sejahtera dibanding wakil presiden jadi jamak bila rakyat harus lebih sejahtera hidupnya daripada wakil rakyatnya sendiri.
| Mr.Tata sedang bercerita di depan murid-murid |
Seperti yang Sekolah Bina Kheir telah lakukan pada pekan ini yaitu mengadakan beragam kegiatan untuk menanamkan rasa kesetiakawanan sosial. Kelas 6 berinisiatif mengadakan bazaar buku dan alat tulis yang mereka jual dengan harga amat murah kepada siswa-siswa di salah satu madrasah dekat sekolah mereka.
Mereka membentuk kepanitiaan, menyiapkan segala macam keperluan hingga melaksanakan acara pada hari-H-nya. Berikut penuturan Haekal, salah satu panitia “ Menurutku hidup itu harus selalu berbagi karena berbagi itu jalan pintas kita. Kalau kita kesusahan, sedikitpun berbagi kita akan dikasih sama Allah lebih banyak lagi..”. lain lagi cerita Ervani, “Arti kesetiakawanan bagiku adalah bisa membantu satu sama lain, bisa mendukung dari belakang, selalu bisa bantu apa yang saya bisa lakukan..”.
| Siswa kelas 6 Berjualan buku murah |
| Putri dan Firdha berbahagia bisa berbagi |
Lain lagi yang dilakukan oleh siswa kelas 4, mereka berkunjung ke rumah singah di permukiman kumuh dengan banyak membawa hadiah dan bingkisan. Awalnya mereka sempat bertanya-tanya, apa itu rumah singgah dan membayangkan sebuah tempat yang nyaman untuk disinggahi. Rupanya bayangan mereka jauh dari kenyataan, rumah singahnya ternyata sebuah bangunan semi permanen yang dinding batanya sebatas dada orang dewasa sementara sisanya hingga ke atas adalah triplek dan papan-papan kayu. Belum lagi bangunan itu hanya beratap seng tanpa langit-langit sehingga terasa sekali mereka seolah sedang mandi sauna sebab hanya satu buah kipas angin yang menggantung dan berputar perlahan di atas sana.
Sungguh terharu rasanya melihat penuturan siswa-siswa yang mereka tuangkan dalam bentuk tulisan refleksi. Tanpa dijejali teori-teori sosial yang njelimet secara tidak sadar mereka telah mendapatkan pengetahuan tentang kesetiakawanan sosial.
Pengertian Kesetiakawanan Sosial seperti yang tertulis pada Undang-undang nomor 11 tahun 2009 adalah nilai, sikap dan perilaku masyarakat yang dilandasi pengertian, kesadaran, tanggungjawab, kesetaraan, partispasi sosial untuk mengatasi dan menanggulangi berbagai masalah sosail sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan dan kerelaan berkorban tanpa pamrih. Tentu bagi siswa hal ini sangat abstrak dan jauh dari jangkauan pikiran mereka. Oleh karena itulah tugas guru mendekatkan pengertian tersebut menjadi sebuah kegiatan yang konkret. Kegiatan inilah yang pada akhirnya memberikan pengalaman belajar seperti yang siswa-siswa tadi telah alami.
Jumat, 03 Juni 2011
Mari Bekerja!
“Ayah kapan punya penghasilan lagi?” rengek istriku di ambang sore. Aku menatap sorot matanya yang beku sambil kuseruput secangkir teh yang rasanya ternyata agak pahit. Bukan ini kali saja ia mengungkapkan hal itu, bukan pula maksudnya meminta tambahan uang belanja, dalam hatinya sebenarnya ia hanya ingin menanyakan dan memastikan kapan aku bekerja lagi.
Empat bulan sudah aku tidak menyandang status sebagai pekerja. Konsekuensinya aku tak punya penghasilan tetap yang mesti kusetor di akhir bulan. Setidaknya itu dalam pandangan istriku. Aku sendiri tidak menganggap diriku pengangguran. Selepas berhenti jadi pekerja tetap, seorang kawan lama memberi kabar dari ujung telepon “Ta, bisa ngajar di tempat bimbel gue nggak? Satu sessi satu setengah jam honornya Rp 50.000,00” Tak banyak komentar aku hanya menjawab Alhamdulillah dalam hati, “iya..gue bisa Za!”
Hari-hari pertama tanpa status sebagai seorang “pekerja” memang agak janggal bagiku. Tak ada kesibukan di pagi hari, tak ada bunyi mesin motor yang biasa kupanaskan. Aku malah sibuk bermain bersama kedua putriku yang masih kecil, “Ayah hari ini libur ya! Asyik de, kita bisa main bareng ayah..”. Aku hanya terdiam mendengar celetukan Kaka, putri sulungku. Celetukannya bagai kerikil yang mengganjal kerongkongan sehingga membuatku terdiam membisu. Lama kelamaan Kaka dan Dede tak lagi menanyakan “hari ini ayah libur ya?” karena saking terbiasanya kami menghabiskan waktu bersama.
Sebagai pengajar lepas di lembaga bimbingan belajar, honorku tergantung banyaknya jam mengajar. Beruntung kala itu aku banyak mendapat jatah karena siswa-siswi sedang sibuk menjelang ujian nasional. Namun selepas ujian nasional, kelas bimbel pun jadi sepi. Itu artinya tak ada lembaran rupiah yang mampir di sakuku. Ini jelas berbeda ketika aku masih punya pekerjaan tetap. Lembaran rupiah yang baru saja kuterima mengingatkanku pada kenangan empat-lima bulan sebelumnya.
“Andai ku tak membuat kesalahan fatal kala itu, tentu nasibku tak seperti ini” gumamku dalam hati. Memang seringkali dianggap klise jika desakan ekonomi membuat orang tak berpikir jernih. Itu pula yang kualami di tempat kerjaku yang dahulu. Penyesalan hadir menyeruak namun aku tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan. Aku menanggapi hal ini secara positif. Belajar memang selalu tidak diambil dari contoh yang benar, belajar dari contoh yang salah bahkan jauh lebih berkesan dan meninggalkan pengalaman yang tak terlupakan. “Orang yang berprestasi tinggi di bidangnya telah mendapatkan keuntungan dari kesalahannya dan mencoba lagi dengan cara yang berbeda, “ ungkap Dale Carniege seorang moivator dan pencetus gerakan sukses. Kata-kata itu jadi makin berarti bagiku kini.
Selain menjadi pengajar freelance, aku punya aktivitas lain. Kebetulan ada seorang kawan lama yang memintaku menyebarkan proposal ke sekolah-sekolah. Ia memintaku menawarkan program pelatihan guru dan beberapa produk yang mungkin dibutuhkan sekolah.
Pagi itu aku berangkat ke luar rumah walau masih gelap mesti ke mana. “Pokoknya ke luar rumah! Bergerak… berbuat sesuatu” Hati kecilku menguatkan. “Ayah mau kemana?” Tanya istriku. “Mau membuktikan ke dunia ‘Bun kalau aku hidup karena bergerak adalah salah satu tanda kehidupan!” lantang suaraku berharap meredakan kegelisahannya.
“Tapi hari ini bawa uang? Beras kita sudah habis loh” Tanyanya lagi. Rupanya kata-kataku belum mampu meredam kegelisahannya.
“Duh Gusti, aku mesti bilang apa?????” aku membisu, bibirku seolah enggan bergerak. Aku seolah kena skak mat.
“Kok diam? Berarti perginya belum bawa bekal tawakal…Inget ‘ga tausyiah kemarin kalau kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya Alloh akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki, dia berangkat pagi-pagi dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut terisi, hadist riwayat Tirmidzi” papar istriku diiringi senyuman.
“Tawakal memang perlu tapi ini juga jangan lupa dibawa…” lanjutnya seraya menyodorkan helm.
“Terima kasih, Bun…dorongannya membuat langkah ini jadi ringan, terasa naik motor yang baru di tune up!” Aku menyodorkan tangan yang lantas disambutnya dengan ucapan, “hati-hati Yah!!”
“Assalamu’alaikum”
“Wa ‘alaikum salam”
Sepanjang perjalanan aku terus melantunkan lagu memompa semangat. Aku mampir sebentar di sebuah masjid. Meredakan ketegangan, kuputuskan untuk sholat dhuha. Selepas dua rokaat kulanjutkan dengan tilawah Al Waqiah dan Yassin, sesuai petuah ayah mertua yang katanya manjur membantu kita keluar dari beragam masalah.
Aku pun mengecek nama-nama di phone book telepon selularku. Beberapa nama akhirnya kutemukan dan segera kukirim pesan singkat untuk bertemu. Alhamdulillah ada beberapa yang langsung memberi respon dan menyediakan waktu bertemu. Minimal proposal ini tersebar, urusan deal atau tidak biar Alloh yang menentukan. Waktu dhuha ini ternyata tak hanya memberiku rehat namun membuka pikiranku yang semula gelap. Aku bisa menelepon beberapa teman, mencari peluang prospek, atau sekedar menjalin kembali silaturahmi. Lucunya beberapa yang kuhubungi selalu membuka pembicaraan dengan bertanya, “sekarang kerja di mana? Lo lagi di mana nih, di kantor….?”. Aku biasanya tersenyum dan menjawab dengan formalitas, “oh gue sekarang wiraswasta, iya nih lagi di tempat kerja”. Padahal sebenarnya mereka tidak tahu, masjid, halte bis, atau warung pinggir jalan kini bisa menjadi tempat kerjaku. Dari sini aku bisa mengendalikan diriku, dari tempat-tempat itu kadang aku merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Kini aku merasa tak jauh berbeda dengan pekerja-pekerja lainnya, meski dileherku tak tergantung sebuah ID Card atau identitas lain layaknya pekerja.
Percaya atau tidak aku mulai menikmati kegiatan ini. Aku bahagia bukan kepalang. Seperti petuah seorang bijak, “Bukan kesuksesan yang membuat orang bahagia, kebahagiaanlah yang membuat orang menjadi sukses”. Itu yang kurasakan kini. Perlahan aku mulai melupakan kegelisahan menyandang status sebagai seorang jobless meski kata sukses kini jadi perdebatan dalam batinku.
Memang ada perasaan iri menyaksikan kisah-kisah sukses teman-teman yang setidaknya terlihat ketika ku iseng membuka facebook. Melalui foto profil atau lewat update status mereka aku menengarai bahwa mereka telah sukses, setidaknya dalam urusan pekerjaan.
Lagi-lagi aku dihadapkan pada kegelisahan, “Aku ini sekarang apa? Sudah jadi apa aku? Wah hebat ya si fulan? Dan sederet pertanyaan lain yang makin menenggelamkanku dalam penyesalan. Ya, penyesalan tentang caraku dalam bekerja. Betapa dahulu aku tak pernah menyadari bahwa sebenarnya tak ada jalan istimewa untuk mendapatkan kemenangan. Jalan yang harus ditempuh adalah rute lama, yang menuntut kerajinan dan ketekunan, begitu pesan Dr. Orison Sweet Marden Guru sukses pencetak guru-guru sukses semacam Dale Carniege, Anthony Robbins dan Stephen R Covey.
Aku beberapa kali pindah bekerja karena ketidaksabaran menapaki karir secara bertahap. Padahal bila lima tahun telah terlalu selepas aku lulus dari kampus, setidaknya aku kini menduduki jabatan setingkat supervisor di tempat kerjaku yang dahulu. Tapi apa lacur, dorongan menggebu untuk mendapatkan kemenangan tanpa diimbangi ketekunan dan kerajinan menyeretku ke pinggir jurang kegagalan.
Semestinya dahulu kurenungi dalam-dalam pesan penyair sentimentil Amerika Serikat, Hendry Wadworth Longfellow, “Ketinggian yang dicapai dan dipelihara oleh orang-orang besar tidaklah diperoleh dengan tiba-tiba. Ketika orang-orang lain terlelap, mereka bekerja keras di tengah malam”.
Bahkan kutipan Thomas Alfa Edison yang kerap kali kubaca, bahwa 90% keberhasilan ditentukan oleh kerja keras dan ketekunan, sementara 1% sisanya ditentukan oleh bakat dan kecerdasan nyatanya tak pernah meresap dalam sanubariku. Ia hanya jadi penghias kamarku sekedar pemanis ruangan.
Perjalananku hari ini terhenti ketika adzan dzhuhur memanggil. Hari mulai beranjak separuh penghabisan. Khusyuk kubermunajat jauh lebih dalam dari biasanya. Naluri manusia memang begitu adanya. Selalu benar-benar merasakan kehadiran Alloh dalam situasi sempit dan terjepit. Beruntung dalam suasana kebatinan yang tertekan ini aku masih merasakan butuhnya pertolongan Tuhan. Sementara di luar sana mungkin banyak yang mengambil jalan pintas, menyelesaikan hidup dengan cara konyol berharap bisa terlepas dari beban masalah. Tugasku kini menata kembali semangat, memperbaiki performa, dan fokus pada tujuan supaya kelak kehidupanku makin baik. Seperti petuah bijak seorang sufi terkemuka imam Al Qusayairi, “Siapa saja yang menduga bahwa apabila seseorang mencurahkan tenaganya untuk mencapai tujuan, berarti ia tertolong. Barangsiapa yang menduga tanpa jerih payah ia akan meraih tujuannya, berarti ia hanya berangan-angan”
Empat bulan sudah aku tidak menyandang status sebagai pekerja. Konsekuensinya aku tak punya penghasilan tetap yang mesti kusetor di akhir bulan. Setidaknya itu dalam pandangan istriku. Aku sendiri tidak menganggap diriku pengangguran. Selepas berhenti jadi pekerja tetap, seorang kawan lama memberi kabar dari ujung telepon “Ta, bisa ngajar di tempat bimbel gue nggak? Satu sessi satu setengah jam honornya Rp 50.000,00” Tak banyak komentar aku hanya menjawab Alhamdulillah dalam hati, “iya..gue bisa Za!”
Hari-hari pertama tanpa status sebagai seorang “pekerja” memang agak janggal bagiku. Tak ada kesibukan di pagi hari, tak ada bunyi mesin motor yang biasa kupanaskan. Aku malah sibuk bermain bersama kedua putriku yang masih kecil, “Ayah hari ini libur ya! Asyik de, kita bisa main bareng ayah..”. Aku hanya terdiam mendengar celetukan Kaka, putri sulungku. Celetukannya bagai kerikil yang mengganjal kerongkongan sehingga membuatku terdiam membisu. Lama kelamaan Kaka dan Dede tak lagi menanyakan “hari ini ayah libur ya?” karena saking terbiasanya kami menghabiskan waktu bersama.
Sebagai pengajar lepas di lembaga bimbingan belajar, honorku tergantung banyaknya jam mengajar. Beruntung kala itu aku banyak mendapat jatah karena siswa-siswi sedang sibuk menjelang ujian nasional. Namun selepas ujian nasional, kelas bimbel pun jadi sepi. Itu artinya tak ada lembaran rupiah yang mampir di sakuku. Ini jelas berbeda ketika aku masih punya pekerjaan tetap. Lembaran rupiah yang baru saja kuterima mengingatkanku pada kenangan empat-lima bulan sebelumnya.
“Andai ku tak membuat kesalahan fatal kala itu, tentu nasibku tak seperti ini” gumamku dalam hati. Memang seringkali dianggap klise jika desakan ekonomi membuat orang tak berpikir jernih. Itu pula yang kualami di tempat kerjaku yang dahulu. Penyesalan hadir menyeruak namun aku tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan. Aku menanggapi hal ini secara positif. Belajar memang selalu tidak diambil dari contoh yang benar, belajar dari contoh yang salah bahkan jauh lebih berkesan dan meninggalkan pengalaman yang tak terlupakan. “Orang yang berprestasi tinggi di bidangnya telah mendapatkan keuntungan dari kesalahannya dan mencoba lagi dengan cara yang berbeda, “ ungkap Dale Carniege seorang moivator dan pencetus gerakan sukses. Kata-kata itu jadi makin berarti bagiku kini.
Selain menjadi pengajar freelance, aku punya aktivitas lain. Kebetulan ada seorang kawan lama yang memintaku menyebarkan proposal ke sekolah-sekolah. Ia memintaku menawarkan program pelatihan guru dan beberapa produk yang mungkin dibutuhkan sekolah.
Pagi itu aku berangkat ke luar rumah walau masih gelap mesti ke mana. “Pokoknya ke luar rumah! Bergerak… berbuat sesuatu” Hati kecilku menguatkan. “Ayah mau kemana?” Tanya istriku. “Mau membuktikan ke dunia ‘Bun kalau aku hidup karena bergerak adalah salah satu tanda kehidupan!” lantang suaraku berharap meredakan kegelisahannya.
“Tapi hari ini bawa uang? Beras kita sudah habis loh” Tanyanya lagi. Rupanya kata-kataku belum mampu meredam kegelisahannya.
“Duh Gusti, aku mesti bilang apa?????” aku membisu, bibirku seolah enggan bergerak. Aku seolah kena skak mat.
“Kok diam? Berarti perginya belum bawa bekal tawakal…Inget ‘ga tausyiah kemarin kalau kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya Alloh akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki, dia berangkat pagi-pagi dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut terisi, hadist riwayat Tirmidzi” papar istriku diiringi senyuman.
“Tawakal memang perlu tapi ini juga jangan lupa dibawa…” lanjutnya seraya menyodorkan helm.
“Terima kasih, Bun…dorongannya membuat langkah ini jadi ringan, terasa naik motor yang baru di tune up!” Aku menyodorkan tangan yang lantas disambutnya dengan ucapan, “hati-hati Yah!!”
“Assalamu’alaikum”
“Wa ‘alaikum salam”
Sepanjang perjalanan aku terus melantunkan lagu memompa semangat. Aku mampir sebentar di sebuah masjid. Meredakan ketegangan, kuputuskan untuk sholat dhuha. Selepas dua rokaat kulanjutkan dengan tilawah Al Waqiah dan Yassin, sesuai petuah ayah mertua yang katanya manjur membantu kita keluar dari beragam masalah.
Aku pun mengecek nama-nama di phone book telepon selularku. Beberapa nama akhirnya kutemukan dan segera kukirim pesan singkat untuk bertemu. Alhamdulillah ada beberapa yang langsung memberi respon dan menyediakan waktu bertemu. Minimal proposal ini tersebar, urusan deal atau tidak biar Alloh yang menentukan. Waktu dhuha ini ternyata tak hanya memberiku rehat namun membuka pikiranku yang semula gelap. Aku bisa menelepon beberapa teman, mencari peluang prospek, atau sekedar menjalin kembali silaturahmi. Lucunya beberapa yang kuhubungi selalu membuka pembicaraan dengan bertanya, “sekarang kerja di mana? Lo lagi di mana nih, di kantor….?”. Aku biasanya tersenyum dan menjawab dengan formalitas, “oh gue sekarang wiraswasta, iya nih lagi di tempat kerja”. Padahal sebenarnya mereka tidak tahu, masjid, halte bis, atau warung pinggir jalan kini bisa menjadi tempat kerjaku. Dari sini aku bisa mengendalikan diriku, dari tempat-tempat itu kadang aku merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Kini aku merasa tak jauh berbeda dengan pekerja-pekerja lainnya, meski dileherku tak tergantung sebuah ID Card atau identitas lain layaknya pekerja.
Percaya atau tidak aku mulai menikmati kegiatan ini. Aku bahagia bukan kepalang. Seperti petuah seorang bijak, “Bukan kesuksesan yang membuat orang bahagia, kebahagiaanlah yang membuat orang menjadi sukses”. Itu yang kurasakan kini. Perlahan aku mulai melupakan kegelisahan menyandang status sebagai seorang jobless meski kata sukses kini jadi perdebatan dalam batinku.
Memang ada perasaan iri menyaksikan kisah-kisah sukses teman-teman yang setidaknya terlihat ketika ku iseng membuka facebook. Melalui foto profil atau lewat update status mereka aku menengarai bahwa mereka telah sukses, setidaknya dalam urusan pekerjaan.
Lagi-lagi aku dihadapkan pada kegelisahan, “Aku ini sekarang apa? Sudah jadi apa aku? Wah hebat ya si fulan? Dan sederet pertanyaan lain yang makin menenggelamkanku dalam penyesalan. Ya, penyesalan tentang caraku dalam bekerja. Betapa dahulu aku tak pernah menyadari bahwa sebenarnya tak ada jalan istimewa untuk mendapatkan kemenangan. Jalan yang harus ditempuh adalah rute lama, yang menuntut kerajinan dan ketekunan, begitu pesan Dr. Orison Sweet Marden Guru sukses pencetak guru-guru sukses semacam Dale Carniege, Anthony Robbins dan Stephen R Covey.
Aku beberapa kali pindah bekerja karena ketidaksabaran menapaki karir secara bertahap. Padahal bila lima tahun telah terlalu selepas aku lulus dari kampus, setidaknya aku kini menduduki jabatan setingkat supervisor di tempat kerjaku yang dahulu. Tapi apa lacur, dorongan menggebu untuk mendapatkan kemenangan tanpa diimbangi ketekunan dan kerajinan menyeretku ke pinggir jurang kegagalan.
Semestinya dahulu kurenungi dalam-dalam pesan penyair sentimentil Amerika Serikat, Hendry Wadworth Longfellow, “Ketinggian yang dicapai dan dipelihara oleh orang-orang besar tidaklah diperoleh dengan tiba-tiba. Ketika orang-orang lain terlelap, mereka bekerja keras di tengah malam”.
Bahkan kutipan Thomas Alfa Edison yang kerap kali kubaca, bahwa 90% keberhasilan ditentukan oleh kerja keras dan ketekunan, sementara 1% sisanya ditentukan oleh bakat dan kecerdasan nyatanya tak pernah meresap dalam sanubariku. Ia hanya jadi penghias kamarku sekedar pemanis ruangan.
Perjalananku hari ini terhenti ketika adzan dzhuhur memanggil. Hari mulai beranjak separuh penghabisan. Khusyuk kubermunajat jauh lebih dalam dari biasanya. Naluri manusia memang begitu adanya. Selalu benar-benar merasakan kehadiran Alloh dalam situasi sempit dan terjepit. Beruntung dalam suasana kebatinan yang tertekan ini aku masih merasakan butuhnya pertolongan Tuhan. Sementara di luar sana mungkin banyak yang mengambil jalan pintas, menyelesaikan hidup dengan cara konyol berharap bisa terlepas dari beban masalah. Tugasku kini menata kembali semangat, memperbaiki performa, dan fokus pada tujuan supaya kelak kehidupanku makin baik. Seperti petuah bijak seorang sufi terkemuka imam Al Qusayairi, “Siapa saja yang menduga bahwa apabila seseorang mencurahkan tenaganya untuk mencapai tujuan, berarti ia tertolong. Barangsiapa yang menduga tanpa jerih payah ia akan meraih tujuannya, berarti ia hanya berangan-angan”
Kamis, 16 Desember 2010
Mimpi-mimpi Garuda
“Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku….
ku yakin hari ini pasti menang.....................
kobarkan semangatmu, tunjukkan sportivitasmu
ku yakin hari ini pasti menang..........................”
Lirik lagu tersebut hari-hari belakangan ini nyaris menghiasi layar kaca pemirsa televisi kita. Segenap perhatian publik kini tertuju pada punggawa-punggawa kebanggaan bangsa di lapangan hijau. Tua muda, besar kecil, lelaki perempuan tumpah ruah memenuhi stadion GBK tatkala timnas bertanding saat penyisihan Piala AFF beberapa pekan lalu.
Kemenangan demi kemenangan yang diraih pasukan di bawah asuhan Alfred Riedl memunculkan sebuah harapan baru akan kebangkitan tim nasional sepakbola kita yang sekian lama miskin prestasi. Pelan tapi pasti perubahan yang diberikan pelatih asal Austria ini telah memberikan pengaruh yang positif bagi para pemain.
Tak dapat dipungkiri, selain berkat tangan dingin Riedl, keberhasilan tim nasional juga tak lepas dari peran supporter setianya. Jutaan pendukung merah Putih dengan lantang selalu menyanyikan lagu ”Garuda di Dadaku”. Lirik yang penuh motivasi dan dibawakan dengan ritme lagu bernada semangat telah melecut perjuangan Firman Utina dkk memberikan hasil terbaik bagi bangsanya.
Perhatikan bait demi bait lagu tersebut terutama pada lirik “ku yakin hari ini pasti menang” yang diulang dua kali. Sekian lama lagu itu telah dinyanyikan jauh sebelum kemenangan yang didapat hari-hari belakangan ini. Di setiap pertandingan atau turnamen resmi pendukung setia Merah Putih tak pernah iseng atau mengubah lirik itu dengan nada mengejek seperti misalnya, ”apakah hari ini kita menang?” atau ”kapan ya timnas kita bisa menang?”. Meski pada kenyataannya hasil yang didapat pada pertandingan itu tim nasional memang tidak memetik kemenangan, lagu itu tetap berkumandang dengan gempitanya.
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari fenomena ini? Mimpi untuk mendapat kemenangan memang tak boleh pupus dari ingatan kita. Ingat apa yang terjadi pada tim nasional Jepang? Jauh sebelum Piala Dunia 2002, Jepang telah memimpikan tim nasionalnya bisa berlaga di piala dunia. Maka dibuatlah film animasi Tsubasa yang bercerita tentang mimpi seorang anak Jepang yang ingin bermain bersama negaranya di piala dunia sepakbola. Kita semua tahu pada waktu itu sepakbola bukan merupakan olahraga populer di kalangan rakyat Jepang. Melalui film animasi Tsubasa, anak-anak jepang diberikan harapan bahwa suatu saat nanti tim nasional mereka bisa tampil di piala dunia. Kenyataan pun terbukti, walau tampil di piala dunia karena menjadi tuan rumah namun penampilan pemain Jepang juga tidak mengecewakan. Hidetoshi Nakata adalah salah satu bintang yang bersinar kala itu. Selepas Piala Dunia 2002, Jepang selalu menjadi langganan peserta piala dunia dua kali berturut-turut yaitu pada tahun 2006 dan 2010.
Sudah seharusnya lagu Garuda di Dadaku terus berkumandang memberikan semangat bagi pemain tim nasional. Lagu yang penuh mantra berisi motivasi. Lagu yang mengajarkan kita untuk terus memupuk keyakinan bahwa kemenangan pasti hari ini akan terjadi. Banyak ahli pengembangan diri menguraikan pentingnya memupuk impian. Sandy Mc Gregor dalam bukunya Piece of Mind mengatakan bahwa otak akan bekerja maksimal dalam frekuensi Alpha. Frekuensi Alpha dalam gelombang otak terjadi pada saat manusia dalam keadaan bermimpi, dengan kata lain antara tidur dan sadar.
Bermimpi tidak sama dengan menghayal. Impian adalah salah satu vitamin penting bagi otak yang akan memacu seluruh organ tubuh untuk bekerja, bergerak dan memberikan hasil yang maksimal. Tak heran, ulama sekaliber Hasan Al Banna juga berujar, ”Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari!” Biarkanlah garuda terbang bersama mimpi-mimpinya. Asal jangan mimpinya terbang bersama harapannya.
ku yakin hari ini pasti menang.....................
kobarkan semangatmu, tunjukkan sportivitasmu
ku yakin hari ini pasti menang..........................”
Lirik lagu tersebut hari-hari belakangan ini nyaris menghiasi layar kaca pemirsa televisi kita. Segenap perhatian publik kini tertuju pada punggawa-punggawa kebanggaan bangsa di lapangan hijau. Tua muda, besar kecil, lelaki perempuan tumpah ruah memenuhi stadion GBK tatkala timnas bertanding saat penyisihan Piala AFF beberapa pekan lalu.
Kemenangan demi kemenangan yang diraih pasukan di bawah asuhan Alfred Riedl memunculkan sebuah harapan baru akan kebangkitan tim nasional sepakbola kita yang sekian lama miskin prestasi. Pelan tapi pasti perubahan yang diberikan pelatih asal Austria ini telah memberikan pengaruh yang positif bagi para pemain.
Tak dapat dipungkiri, selain berkat tangan dingin Riedl, keberhasilan tim nasional juga tak lepas dari peran supporter setianya. Jutaan pendukung merah Putih dengan lantang selalu menyanyikan lagu ”Garuda di Dadaku”. Lirik yang penuh motivasi dan dibawakan dengan ritme lagu bernada semangat telah melecut perjuangan Firman Utina dkk memberikan hasil terbaik bagi bangsanya.
Perhatikan bait demi bait lagu tersebut terutama pada lirik “ku yakin hari ini pasti menang” yang diulang dua kali. Sekian lama lagu itu telah dinyanyikan jauh sebelum kemenangan yang didapat hari-hari belakangan ini. Di setiap pertandingan atau turnamen resmi pendukung setia Merah Putih tak pernah iseng atau mengubah lirik itu dengan nada mengejek seperti misalnya, ”apakah hari ini kita menang?” atau ”kapan ya timnas kita bisa menang?”. Meski pada kenyataannya hasil yang didapat pada pertandingan itu tim nasional memang tidak memetik kemenangan, lagu itu tetap berkumandang dengan gempitanya.
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari fenomena ini? Mimpi untuk mendapat kemenangan memang tak boleh pupus dari ingatan kita. Ingat apa yang terjadi pada tim nasional Jepang? Jauh sebelum Piala Dunia 2002, Jepang telah memimpikan tim nasionalnya bisa berlaga di piala dunia. Maka dibuatlah film animasi Tsubasa yang bercerita tentang mimpi seorang anak Jepang yang ingin bermain bersama negaranya di piala dunia sepakbola. Kita semua tahu pada waktu itu sepakbola bukan merupakan olahraga populer di kalangan rakyat Jepang. Melalui film animasi Tsubasa, anak-anak jepang diberikan harapan bahwa suatu saat nanti tim nasional mereka bisa tampil di piala dunia. Kenyataan pun terbukti, walau tampil di piala dunia karena menjadi tuan rumah namun penampilan pemain Jepang juga tidak mengecewakan. Hidetoshi Nakata adalah salah satu bintang yang bersinar kala itu. Selepas Piala Dunia 2002, Jepang selalu menjadi langganan peserta piala dunia dua kali berturut-turut yaitu pada tahun 2006 dan 2010.
Sudah seharusnya lagu Garuda di Dadaku terus berkumandang memberikan semangat bagi pemain tim nasional. Lagu yang penuh mantra berisi motivasi. Lagu yang mengajarkan kita untuk terus memupuk keyakinan bahwa kemenangan pasti hari ini akan terjadi. Banyak ahli pengembangan diri menguraikan pentingnya memupuk impian. Sandy Mc Gregor dalam bukunya Piece of Mind mengatakan bahwa otak akan bekerja maksimal dalam frekuensi Alpha. Frekuensi Alpha dalam gelombang otak terjadi pada saat manusia dalam keadaan bermimpi, dengan kata lain antara tidur dan sadar.
Bermimpi tidak sama dengan menghayal. Impian adalah salah satu vitamin penting bagi otak yang akan memacu seluruh organ tubuh untuk bekerja, bergerak dan memberikan hasil yang maksimal. Tak heran, ulama sekaliber Hasan Al Banna juga berujar, ”Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari!” Biarkanlah garuda terbang bersama mimpi-mimpinya. Asal jangan mimpinya terbang bersama harapannya.
Kamis, 09 Desember 2010
Konsultasi Tukang Mie
Beratnya beban hidup membuat kami berfikir untuk mancari jalan keluar. Himpitan ekonomi dan sesaknya pikiran kami atas beragam masalah kehidupan telah membuat rumah tangga kami nyaris berantakan. Ribut soal kecil bisa merembet menjadi hal yang besar. Awalnya bukan gara-gara kami kurang uang, namun kami kurang kepercayaan satu sama lain. Sehingga masalah uang menjadi titik kulminasi dari segala debat kusir selama ini.
Kami pun berfikir untuk meperbaiki keadaan rumahtangga ini dengan memulai dari memperbaiki keadaan ekonomi. Selintas pikiran untuk berdagang muncul kemudian. Ingatan kami pun melambung pada sosok yang kami anggap menjadi figur sukses dalam bidang usaha. Kebetulan kami berdua penggemar mie ayam. Tepat di pinggir Jl. Raya Pahlawan Rempoa, Gintung Tangsel, ada satu pedagang mie ayam yang amat terkenal sejak istriku masih kecil, namanya Mie Ayam Kumis.
Mie ayam kumis memang laiknya seperti mie ayam yang di jual di gerobak pinggir jalan. Tak ada yang istimewa dari penampilan fisiknya, gerobak tua, beberapa kursi kayu memanjang dan terpal biru yang hampir robek. Namun banyak orang menggilai mie ayam ini.
Mie ayam kumis baru buka menjelang Ashar dan biasanya sudah habis menjelang isya. Terkadang bila suasana sedang ramai, anda datang maghrib pun sudah tak kebagian. Setelah banyak mencicipi mie ayam, saya memang menyium aroma berbeda dari mie ayam kumis, belum lagi taburan daging ayamnya yang diiris besar-besar serta mienya yang lentur membuat air liur kerap keluar saat membayangkannya.
Sore itu selepas menyantap mie ayam terakhir buatan Kumis-begitu biasa ia kami sapa- ada keinginan untuk mengobrol dengannya mengenai bisnis kuliner yang ia geluti. Awalnya agak ragu juga memulai pembicaraan namun akhirnya kami memberanikan diri.
"Mis, gue pengen ngobrol nih"
"Ngobrol apaan, dah sana pulang udah abis mie ayam gue mau beberes!" ujarnya santai
"Gue mau ngajak kerjasama bisnis" aku mencoba merayunya
"Bisnis apaan? MLM? nggak ah gua nggak tertarik, mending lu pulang aja" kali ini Kumis agak ketus
Aku pun sempat down namun istriku yang sudah faham karakter kumis menanggapinya dengan santai. "iya nih gue mau buka mie ayam juga"
Namun raut muka Kumis masih belum berubah antusias.
Hujan pun turun. Aku yang sedari tadi sudah ilfeel dengan gelagat Kumis hanya bisa mengelus dada. Dalam hati berkecamuk, "sombong nian ini orang"
aku dan istri kembali berteduh di bawah tenda mie ayam Kumis. tak disangka Kumis menghampiri dan berkata, "lo serius mau kerjasama sama gue?"
"Iyalah Mis, masa gue becanda!" senyum kami sontak mengembang
"Tapi lo mau nggak belajar?" tanya Kumis
"Ilmu dagang kaya begini mesti dipelajari, lo siap nggak?" katanya lagi
"Iyah Mis, gue siap!!" jawab kami
"Jangan siap,,siap doang loe"
"Loe pikir dagang itu enak??? lu dah ngerasain prihatin belon?"
"Loe jangan liat gue yang sekarang, emang loe pikir dagang itu gampang!"
"Justru itu Mis, kita mau belajar dari loe" kami pun meyakinkannya
"Sekarang loe ngejalanin sholat malam dulu, paling sedikit 41 malam jangan putus, kalau sampai 60 malam lebih bagus"
"Trus selama loe sholat malam, loe minta petunjuk sama Alloh. kalo loe nggak bisa bahasa arab ya udah pake bahasa Indonesia aja!"
"Emang loe pake bahasa arab Mis? " gelitikku
"Ya nggak, mana ngarti gue bahasa Arab! sekolah aja nggak selesai!" candanya
"Minta sama Alloh, kita bisa apa sih...kan cuma bisanya minta...." pesannya seperti mnggurui kami
"Trus setelah itu jangan sampai loe berbuat nggak jujur, misal loe nemu duit, duitnya jangan loe makan, amalin aja, kasih ke pengemis kek, trus kalau ada tamu main ke rumah, barangnya ketinggalan, ya dompet keke, hape kek, pulangin. '' panjang lebar ia menjelaskan
"Loe mau sukses, mau itu kerja, apa dagang atau sekolah syaratnya sebenarnya cuma tiga yaitu; jujur, berani dan rajin"
"Nah kalau udah ada petunjuk atau ilham emang loe mesti jalannya berdagang, baru lo lakonin tuh kerjaan dengan serius..."
"Loe jangan males, kalau belum ada pembeli seharian jangan nyerah, harus sabar...."
"Inget satu hal lagi, kalo ada orang datang minta-minta loe jangan bentak, sebisanya loe kasih duit. minta doanya....doa mereka manjur, loe tau kagak?"
"Iya mis, gue tahu..gue juga belajar agama!" kami mesem-mesem
"Ah loe belajar doang nggak pernah ngamalin sih, makanya loe susah..."
"Banyak kita liat orang belajar agama nggak ada ngaruhnya ama kehidupan dia, loe tanya tuh kenapa?" ujar Kumis bernada retoris
"Bencong aja pernah gue minta doanya biar usaha gue laris....apa gue pernah pikir bencong itu bakal diterima doanya sama Alloh?..."
"Nggak gue nggak mikir ke sono, itu biar urusan dia ama Alloh aja, yang penting hari itu dia bisa dapat rezeki melalui perantaraan gue...padahal cuma gue kasih seceng" Kumis bicara amat serius.
Kami terbuai mendengar tausyiahnya, tak menyangka kalau sosok pedagang mie yang kalau bicara ceplas-ceplos bahkan terkadang menjurus porno ini bisa menasehati seperti layaknya ustad
"Insya Alloh Mis, kita siap...kita juga mau berhasil kayak loe" kami menatapnya penuh harap.
"ah loe sekarang aja ngomong begitu karena loe lagi susah...apa gue bisa jamin loe juga bakal bisa ngelakoninnya kalau loe udah sukses?"
Kami terdiam.
"Nah loe nggak bisa jawab kan?" serobot Kumis
"Banyak orang datang ke gue ngajak kerjasama juga, bukan cuma yang susah kaya loe, yang duitnya segepok juga ada!"
"Tapi begitu gue tanya kaya tadi pada diem semua!"
"Nah sekarang loe pulang.....loe ngejalanin apa yang gue bilang tadi cepet sana...nunggu apa lagi????" nadanya gusar seolah ingin mengusir kami
Kami terdiam memaku. Kata-kata Kumis sedari tadi sudah memenuhi lubuk pikiranku. Ucapannya seolah menusuk kesadaran imanku. Apa yang dilontarkannya sedari tadi seolah mengingatkanku untuk berlaku rajin, jujur dan berani...tiga hal yang sekian lama lepas dari genggamanku
Kami pun berfikir untuk meperbaiki keadaan rumahtangga ini dengan memulai dari memperbaiki keadaan ekonomi. Selintas pikiran untuk berdagang muncul kemudian. Ingatan kami pun melambung pada sosok yang kami anggap menjadi figur sukses dalam bidang usaha. Kebetulan kami berdua penggemar mie ayam. Tepat di pinggir Jl. Raya Pahlawan Rempoa, Gintung Tangsel, ada satu pedagang mie ayam yang amat terkenal sejak istriku masih kecil, namanya Mie Ayam Kumis.
Mie ayam kumis memang laiknya seperti mie ayam yang di jual di gerobak pinggir jalan. Tak ada yang istimewa dari penampilan fisiknya, gerobak tua, beberapa kursi kayu memanjang dan terpal biru yang hampir robek. Namun banyak orang menggilai mie ayam ini.
Mie ayam kumis baru buka menjelang Ashar dan biasanya sudah habis menjelang isya. Terkadang bila suasana sedang ramai, anda datang maghrib pun sudah tak kebagian. Setelah banyak mencicipi mie ayam, saya memang menyium aroma berbeda dari mie ayam kumis, belum lagi taburan daging ayamnya yang diiris besar-besar serta mienya yang lentur membuat air liur kerap keluar saat membayangkannya.
Sore itu selepas menyantap mie ayam terakhir buatan Kumis-begitu biasa ia kami sapa- ada keinginan untuk mengobrol dengannya mengenai bisnis kuliner yang ia geluti. Awalnya agak ragu juga memulai pembicaraan namun akhirnya kami memberanikan diri.
"Mis, gue pengen ngobrol nih"
"Ngobrol apaan, dah sana pulang udah abis mie ayam gue mau beberes!" ujarnya santai
"Gue mau ngajak kerjasama bisnis" aku mencoba merayunya
"Bisnis apaan? MLM? nggak ah gua nggak tertarik, mending lu pulang aja" kali ini Kumis agak ketus
Aku pun sempat down namun istriku yang sudah faham karakter kumis menanggapinya dengan santai. "iya nih gue mau buka mie ayam juga"
Namun raut muka Kumis masih belum berubah antusias.
Hujan pun turun. Aku yang sedari tadi sudah ilfeel dengan gelagat Kumis hanya bisa mengelus dada. Dalam hati berkecamuk, "sombong nian ini orang"
aku dan istri kembali berteduh di bawah tenda mie ayam Kumis. tak disangka Kumis menghampiri dan berkata, "lo serius mau kerjasama sama gue?"
"Iyalah Mis, masa gue becanda!" senyum kami sontak mengembang
"Tapi lo mau nggak belajar?" tanya Kumis
"Ilmu dagang kaya begini mesti dipelajari, lo siap nggak?" katanya lagi
"Iyah Mis, gue siap!!" jawab kami
"Jangan siap,,siap doang loe"
"Loe pikir dagang itu enak??? lu dah ngerasain prihatin belon?"
"Loe jangan liat gue yang sekarang, emang loe pikir dagang itu gampang!"
"Justru itu Mis, kita mau belajar dari loe" kami pun meyakinkannya
"Sekarang loe ngejalanin sholat malam dulu, paling sedikit 41 malam jangan putus, kalau sampai 60 malam lebih bagus"
"Trus selama loe sholat malam, loe minta petunjuk sama Alloh. kalo loe nggak bisa bahasa arab ya udah pake bahasa Indonesia aja!"
"Emang loe pake bahasa arab Mis? " gelitikku
"Ya nggak, mana ngarti gue bahasa Arab! sekolah aja nggak selesai!" candanya
"Minta sama Alloh, kita bisa apa sih...kan cuma bisanya minta...." pesannya seperti mnggurui kami
"Trus setelah itu jangan sampai loe berbuat nggak jujur, misal loe nemu duit, duitnya jangan loe makan, amalin aja, kasih ke pengemis kek, trus kalau ada tamu main ke rumah, barangnya ketinggalan, ya dompet keke, hape kek, pulangin. '' panjang lebar ia menjelaskan
"Loe mau sukses, mau itu kerja, apa dagang atau sekolah syaratnya sebenarnya cuma tiga yaitu; jujur, berani dan rajin"
"Nah kalau udah ada petunjuk atau ilham emang loe mesti jalannya berdagang, baru lo lakonin tuh kerjaan dengan serius..."
"Loe jangan males, kalau belum ada pembeli seharian jangan nyerah, harus sabar...."
"Inget satu hal lagi, kalo ada orang datang minta-minta loe jangan bentak, sebisanya loe kasih duit. minta doanya....doa mereka manjur, loe tau kagak?"
"Iya mis, gue tahu..gue juga belajar agama!" kami mesem-mesem
"Ah loe belajar doang nggak pernah ngamalin sih, makanya loe susah..."
"Banyak kita liat orang belajar agama nggak ada ngaruhnya ama kehidupan dia, loe tanya tuh kenapa?" ujar Kumis bernada retoris
"Bencong aja pernah gue minta doanya biar usaha gue laris....apa gue pernah pikir bencong itu bakal diterima doanya sama Alloh?..."
"Nggak gue nggak mikir ke sono, itu biar urusan dia ama Alloh aja, yang penting hari itu dia bisa dapat rezeki melalui perantaraan gue...padahal cuma gue kasih seceng" Kumis bicara amat serius.
Kami terbuai mendengar tausyiahnya, tak menyangka kalau sosok pedagang mie yang kalau bicara ceplas-ceplos bahkan terkadang menjurus porno ini bisa menasehati seperti layaknya ustad
"Insya Alloh Mis, kita siap...kita juga mau berhasil kayak loe" kami menatapnya penuh harap.
"ah loe sekarang aja ngomong begitu karena loe lagi susah...apa gue bisa jamin loe juga bakal bisa ngelakoninnya kalau loe udah sukses?"
Kami terdiam.
"Nah loe nggak bisa jawab kan?" serobot Kumis
"Banyak orang datang ke gue ngajak kerjasama juga, bukan cuma yang susah kaya loe, yang duitnya segepok juga ada!"
"Tapi begitu gue tanya kaya tadi pada diem semua!"
"Nah sekarang loe pulang.....loe ngejalanin apa yang gue bilang tadi cepet sana...nunggu apa lagi????" nadanya gusar seolah ingin mengusir kami
Kami terdiam memaku. Kata-kata Kumis sedari tadi sudah memenuhi lubuk pikiranku. Ucapannya seolah menusuk kesadaran imanku. Apa yang dilontarkannya sedari tadi seolah mengingatkanku untuk berlaku rajin, jujur dan berani...tiga hal yang sekian lama lepas dari genggamanku
Jumat, 17 September 2010
Puisi Televisi
Televisi hari ini tidak sekedar menyala
Televisi hari ini sudah menyalak
Gonggongannya galak sekali
Melebihi galaknya polisi
Pagi buta telah mengganggu nyenyak tidur politisi
dan pejabat publik yang tersandung korupsi
Tapi di kabar pagi tak nampak lagi penyiar putri
yang biasa memandu dan memberondong pemberi informasi
kabarnya tersangkut masalah dengan polisi
akibat informannya salah menyanyi
Televisi hari ini tak lagi hitam putih
Penuh warna bergradasi dan sedikit manipulasi
Kaum uzurnya terlibat drama reality bertajuk korupsi
Kaum ibunya lalai memberi asi karena keasyikan cinta fitri
kaum mudanya tak lagi hafal lantunan barjanzi
malah asyik berjingkrak diiringi harmoni dipandu kaum banci
Televisi hari ini tak lagi memihak pada yang benar
tetapi memihak pada yang bayar
Televisi berita pertama memberi durasi lebih lama
pada pemilik modalnya kala berbicara
Televisi yang terdepan mengabarkan berita
Ditengarai terlibat skandal rekayasa
Televisi keluarga Indonesia malah tak lagi berpihak pada keluarga
Televisi kebanggaan bersama miliki bangsa
kini bakal jadi milik bangsa tetangga sebelah
Televisi yang isinya satu untuk semua malah semakin membuat jenuh pemirsa
Televisi milik kita bersama kini jadi milik keluarga pengusaha
Otakku masih dipenuhi banyak lagi televisi
kabel-kabelnya menjalar ke seluruh tubuh hingga ujung birahi
Dep0k, April 2010
Televisi hari ini sudah menyalak
Gonggongannya galak sekali
Melebihi galaknya polisi
Pagi buta telah mengganggu nyenyak tidur politisi
dan pejabat publik yang tersandung korupsi
Tapi di kabar pagi tak nampak lagi penyiar putri
yang biasa memandu dan memberondong pemberi informasi
kabarnya tersangkut masalah dengan polisi
akibat informannya salah menyanyi
Televisi hari ini tak lagi hitam putih
Penuh warna bergradasi dan sedikit manipulasi
Kaum uzurnya terlibat drama reality bertajuk korupsi
Kaum ibunya lalai memberi asi karena keasyikan cinta fitri
kaum mudanya tak lagi hafal lantunan barjanzi
malah asyik berjingkrak diiringi harmoni dipandu kaum banci
Televisi hari ini tak lagi memihak pada yang benar
tetapi memihak pada yang bayar
Televisi berita pertama memberi durasi lebih lama
pada pemilik modalnya kala berbicara
Televisi yang terdepan mengabarkan berita
Ditengarai terlibat skandal rekayasa
Televisi keluarga Indonesia malah tak lagi berpihak pada keluarga
Televisi kebanggaan bersama miliki bangsa
kini bakal jadi milik bangsa tetangga sebelah
Televisi yang isinya satu untuk semua malah semakin membuat jenuh pemirsa
Televisi milik kita bersama kini jadi milik keluarga pengusaha
Otakku masih dipenuhi banyak lagi televisi
kabel-kabelnya menjalar ke seluruh tubuh hingga ujung birahi
Dep0k, April 2010
Julia Perez Sekwilda Depok?
Hiruk pikuk pemilukada Depok, Oktober tahun ini nyaris tak seheboh seperti daerah lain. Pasalnya tak ada sosok kontroversial yang maju sebagai kandidat. Belakangan muncul rumors yang berkembang bahwa Julia Perez disebut-sebut bakal meramaikan panggung politik di Kota depok yang memang sedang adem ayem ini.
Menarik untuk disimak kiprah Julia Perez dalam pusaran politik beberapa tahun ini.
Setelah berhasil menggaet Gaston Castanyo -pesepakbola imigran yang merumput di Liga Super- Julia Perez pernah memikat politisi lokal Pacitan. Menjelang pemilukada tahun ini, namanya digadang-gadang untuk disandingkan dengan politisi dari beberapa aliansi partai gurem di sana sebagai orang nomor satu di tanah kelahiran SBY itu.
Awalnya Jupe –begitu biasa ia disapa- tak begitu menganggap rumor itu serius. Sebagai pesohor tentunya ia mahfum dengan strategi membuat issu agar diendus media. Namun akibat dihubungi oleh seorang artis senior yang belakangan diketahui bernama Reny Jayusman, Jupe tak bisa menampik tawaran itu. Kali ini Mbak Reni Jayusman memang sedang tidak jayus man! Ia benar-benar sedang serius. Seorang petinggi parpol di Pacitan yang kebetulan dekat Reny-lah yang menghubungi Jupe.
Sebelum maju menjadi cabup, sempat beredar transkrip pembicaraan antara Jupe dan tokoh parpol lokal. Berikut petikan transkrip rekaman pembicaraannya,
“Mbak Jupe…bagaimana siap untuk dicalonkan menjadi Bupati Pacitan?” tanya petinggi parpol tersebut.
“Saya tak kuasa menolak Mas kalau memang itu keinginan rakyat” jawab Jupe diplomatis.
“Sebenarnya ini keinginan arus bawah mbak…kita bukan hanya ingin memanfaatkan popularitas mbak semata,” petinggi parpol itu mencoba menyakinkan Jupe.
Jupe terdiam sejenak, pikirannya lantas melambung. “Ah…apakah ini benar keinginan arus bawah masyarakat atau arus bawah si bapak ini yang sudah kadung nafsu sama saya ya?” gumam Jupe dalam hati. Jemarinya terus memain-mainkan kabel telepon.
“Oke mbak jadi kapan kita bisa ketemu untuk berbicara lebih panjang?” desak suara dari ujung sana.
Jupe lantas sewot dan mencak-mencak, “Eh mas tolong ucapannya diralat ya! Kalau mau ketemu saya bukan untuk membicarakan yang lebih panjang, orang ketemu saya untuk membicarakan dan melihat yang lebih besar!”
Jupe pun menutup telepon dengan perasaan yang masih dongkol.
Akhirnya melalui serangkaian pendekatan yang intensif, pertemuan antara petinggi parpol dan tim sukses Jupe pun digelar. Para pemburu berita yang sedari tadi menunggu preskon akhirnya dapat bernafas dengan lega ketika salah seorang tim sukses merapikan meja. “Ehm maaf mas, jadi kapan jumpa persnya ya?” tanya salah seorang wartawan.
“Oh maaf mas saya cuma housekeeping” ucapnya sambil tersenyum simpul
Para wartawan kembali duduk-duduk diteras sambil menunduk. Rupanya bukan osteoporosis yang menyebabkan banyak di antara wartawan mengalami kelainan tulang punggung. Mereka tampaknya sedang sibuk ketrak-ketrik dengan telepon qwerty hanya untuk update statusnya di facebook dan twitter.
Jupe akhirnya angkat bicara. Tim suksesnya bahkan sengaja membalutnya dengan busana blazer ala Evita Peron agar kelihatan anggun. Bajunya bahkan kini nyaris sopan dan tidak kekurangan bahan lagi. Salah seorang wartawan bertanya, “Jup..Jup apakah anda memiliki pengalaman di birokrasi sebagai bekal menjadi pejabat publik?”
Jupe dengan tenang menjawab, “Saya adalah wanita yang paling memiliki pengalaman dan sejarah di birokrasi yang cukup lama. ”
“Waktu perceraian saya dengan pria asal Perancis saya sudah di birokrasi, saat mengalami pelakuan tak menyenangkan dengan ayah kandung saya, saya sudah di birokrasi…” ucapnya lirih sambil menahan air mata.
Para wartawan agak bingung dibuatnya. Sesekali diantara para wartawan menoleh kepada rekannya yang lain pertanda bingung.
“Maksudnya apa mbak, kami nggak ngerti!” salah seorang wartawan memberanikan bertanya.
“Eh..kalian wartawan infotainment gak pernah ikut diklat PWI ya?” serobot Jupe.
“ Pengalaman saya di birokrasi ya itu tadi, saya pernah di birokrasi alias di bikin robek karena dikerasi. .gimana apa mesti saya jelaskan lagi? Semprull!!”
Wartawan semakin bingung, belum sempat ditanya Jupe kahirnya nyerocos lagi,
“Nih denger ya..waktu nikah kan anu saya (maksud saya perasaan saya) di bikin robek karena dikerasi sama suami saya. Dia ternyata tak sebaik yang saya kira. Saat berumah tangga hati saya kembali di birokrasi alias di dibikin robek oleh suami saya. Tak cuma dikerasi saya malah, dilempari, ditampari, di-KDRT-i .Belum lagi waktu ayah kandung saya mau bunuh saya dan ibu saya….Bikin statement yang menyakiti di televisi, coba sudah di birokrasi apa lagi yang belum saya lakoni!!” tutur Jupe sambil berlinang air mata.
Para wartawan semua terdiam. Suasana mendadak hening. Dari belakang muncul perlahan suara tepuk tangan. Plok..Plok..satu dua tepuk tangan menyusul. Sayup-sayup tepuk tangan bergemuruh dan akhirnya membahana. Semua yang hadir pun ikut berdiri.
Esok hari headline koran dan tabloid mengangkat soal Julia Perez Bupati Pacitan. Sontak seantero negeri jadi gusar. Pihak yang kontra mengeluarkan pernyataan lebih pedas, “Pezina dilarang menjadi pemimpin!” Namun tak sedikit pula yang mendukung pemilik nama asli Yuliana Rahmawati ini.
Kaum pendukung Jupe meneriakkah yel-yel “Jupe Campeone..! Jupe Scudetto…!” oh maaf ini tampaknya pendukung Jupentus.
Sayang geliat semangat Jupe ternyata berhenti sudah. entah karena alasan apa, namanya akhirnya redup dan nyaris tak terdegar lagi.
Padahal tak ada alasan untuk tidak mendukung Julia Perez menjadi Bupati Pacitan. Orang-orang yang menolaknya adalah kaum munafik. Bukankah sedari awal kemunculannya Jupe sudah Bupati Pacitan? Mengapa baru sekarang dipertentangkan.
Lihatlah rekam jejak Jupe di panggung hiburan yang di awalinya dengan bupati pacitan alias buka paha tinggi-tinggi pasti ciptakan tantangan. Tak cuma bupati pacitan yang dilakoninya, sekwilda depok alias sekitar wilayah dada depan montok pun telah melambungkan namanya. Tak banyak yang komentar kala itu.
Seandainya masyarakat kita cerdas pasti apa yang dijual Julia Perez akan tak laku di pasaran. Kemunculannya sebagai kandidat calon pemimpin masyarakat tak perlu dipertentangkan. Justru akan menjadi tolak ukur indeks pembangunan manusia pada masyarakat tersebut. Jika pemimpinnya perampok ya masyarakatnya ‘kan ndak jauh-jauh dari kaum pencopet, pengutil, pemgemplang dan lain sebangsanya.
Dukungan secara pribadi saya kepada Julia Perez untuk menjadi bupati memang mungkin terlambat, namun itu jauh lebih baik bagi Jupe. Alih-alih jualan lagu belah duren berbonus alat kontrasepsi, menjadi pemimpin masyarakat akan jauh lebih terhormat bagi Jupe untuk kembali pada jalan yang benar.
Sekiranya ia gagal menjadi bupati dan pundi-pundi kekayaannya sudah habis untuk ongkos politik dan biaya pelumas mesin parpol, masih ada peluang bagi Jupe merintis karir di dunia selebritas dari nol lagi. Misalnya dengan mengikuti lomba mirip artis semacam the Promotor Trans TV sebab menurut saya wajah, penampilan, gesture, Jupe sangat mirip sekali dengan Chef Farah Quinn yang terkenal itu.Dan semoga predikat Jupe sebagai Sekwilda Depok perlahan menghilang dari ingatan publik.
Menarik untuk disimak kiprah Julia Perez dalam pusaran politik beberapa tahun ini.
Setelah berhasil menggaet Gaston Castanyo -pesepakbola imigran yang merumput di Liga Super- Julia Perez pernah memikat politisi lokal Pacitan. Menjelang pemilukada tahun ini, namanya digadang-gadang untuk disandingkan dengan politisi dari beberapa aliansi partai gurem di sana sebagai orang nomor satu di tanah kelahiran SBY itu.
Awalnya Jupe –begitu biasa ia disapa- tak begitu menganggap rumor itu serius. Sebagai pesohor tentunya ia mahfum dengan strategi membuat issu agar diendus media. Namun akibat dihubungi oleh seorang artis senior yang belakangan diketahui bernama Reny Jayusman, Jupe tak bisa menampik tawaran itu. Kali ini Mbak Reni Jayusman memang sedang tidak jayus man! Ia benar-benar sedang serius. Seorang petinggi parpol di Pacitan yang kebetulan dekat Reny-lah yang menghubungi Jupe.
Sebelum maju menjadi cabup, sempat beredar transkrip pembicaraan antara Jupe dan tokoh parpol lokal. Berikut petikan transkrip rekaman pembicaraannya,
“Mbak Jupe…bagaimana siap untuk dicalonkan menjadi Bupati Pacitan?” tanya petinggi parpol tersebut.
“Saya tak kuasa menolak Mas kalau memang itu keinginan rakyat” jawab Jupe diplomatis.
“Sebenarnya ini keinginan arus bawah mbak…kita bukan hanya ingin memanfaatkan popularitas mbak semata,” petinggi parpol itu mencoba menyakinkan Jupe.
Jupe terdiam sejenak, pikirannya lantas melambung. “Ah…apakah ini benar keinginan arus bawah masyarakat atau arus bawah si bapak ini yang sudah kadung nafsu sama saya ya?” gumam Jupe dalam hati. Jemarinya terus memain-mainkan kabel telepon.
“Oke mbak jadi kapan kita bisa ketemu untuk berbicara lebih panjang?” desak suara dari ujung sana.
Jupe lantas sewot dan mencak-mencak, “Eh mas tolong ucapannya diralat ya! Kalau mau ketemu saya bukan untuk membicarakan yang lebih panjang, orang ketemu saya untuk membicarakan dan melihat yang lebih besar!”
Jupe pun menutup telepon dengan perasaan yang masih dongkol.
Akhirnya melalui serangkaian pendekatan yang intensif, pertemuan antara petinggi parpol dan tim sukses Jupe pun digelar. Para pemburu berita yang sedari tadi menunggu preskon akhirnya dapat bernafas dengan lega ketika salah seorang tim sukses merapikan meja. “Ehm maaf mas, jadi kapan jumpa persnya ya?” tanya salah seorang wartawan.
“Oh maaf mas saya cuma housekeeping” ucapnya sambil tersenyum simpul
Para wartawan kembali duduk-duduk diteras sambil menunduk. Rupanya bukan osteoporosis yang menyebabkan banyak di antara wartawan mengalami kelainan tulang punggung. Mereka tampaknya sedang sibuk ketrak-ketrik dengan telepon qwerty hanya untuk update statusnya di facebook dan twitter.
Jupe akhirnya angkat bicara. Tim suksesnya bahkan sengaja membalutnya dengan busana blazer ala Evita Peron agar kelihatan anggun. Bajunya bahkan kini nyaris sopan dan tidak kekurangan bahan lagi. Salah seorang wartawan bertanya, “Jup..Jup apakah anda memiliki pengalaman di birokrasi sebagai bekal menjadi pejabat publik?”
Jupe dengan tenang menjawab, “Saya adalah wanita yang paling memiliki pengalaman dan sejarah di birokrasi yang cukup lama. ”
“Waktu perceraian saya dengan pria asal Perancis saya sudah di birokrasi, saat mengalami pelakuan tak menyenangkan dengan ayah kandung saya, saya sudah di birokrasi…” ucapnya lirih sambil menahan air mata.
Para wartawan agak bingung dibuatnya. Sesekali diantara para wartawan menoleh kepada rekannya yang lain pertanda bingung.
“Maksudnya apa mbak, kami nggak ngerti!” salah seorang wartawan memberanikan bertanya.
“Eh..kalian wartawan infotainment gak pernah ikut diklat PWI ya?” serobot Jupe.
“ Pengalaman saya di birokrasi ya itu tadi, saya pernah di birokrasi alias di bikin robek karena dikerasi. .gimana apa mesti saya jelaskan lagi? Semprull!!”
Wartawan semakin bingung, belum sempat ditanya Jupe kahirnya nyerocos lagi,
“Nih denger ya..waktu nikah kan anu saya (maksud saya perasaan saya) di bikin robek karena dikerasi sama suami saya. Dia ternyata tak sebaik yang saya kira. Saat berumah tangga hati saya kembali di birokrasi alias di dibikin robek oleh suami saya. Tak cuma dikerasi saya malah, dilempari, ditampari, di-KDRT-i .Belum lagi waktu ayah kandung saya mau bunuh saya dan ibu saya….Bikin statement yang menyakiti di televisi, coba sudah di birokrasi apa lagi yang belum saya lakoni!!” tutur Jupe sambil berlinang air mata.
Para wartawan semua terdiam. Suasana mendadak hening. Dari belakang muncul perlahan suara tepuk tangan. Plok..Plok..satu dua tepuk tangan menyusul. Sayup-sayup tepuk tangan bergemuruh dan akhirnya membahana. Semua yang hadir pun ikut berdiri.
Esok hari headline koran dan tabloid mengangkat soal Julia Perez Bupati Pacitan. Sontak seantero negeri jadi gusar. Pihak yang kontra mengeluarkan pernyataan lebih pedas, “Pezina dilarang menjadi pemimpin!” Namun tak sedikit pula yang mendukung pemilik nama asli Yuliana Rahmawati ini.
Kaum pendukung Jupe meneriakkah yel-yel “Jupe Campeone..! Jupe Scudetto…!” oh maaf ini tampaknya pendukung Jupentus.
Sayang geliat semangat Jupe ternyata berhenti sudah. entah karena alasan apa, namanya akhirnya redup dan nyaris tak terdegar lagi.
Padahal tak ada alasan untuk tidak mendukung Julia Perez menjadi Bupati Pacitan. Orang-orang yang menolaknya adalah kaum munafik. Bukankah sedari awal kemunculannya Jupe sudah Bupati Pacitan? Mengapa baru sekarang dipertentangkan.
Lihatlah rekam jejak Jupe di panggung hiburan yang di awalinya dengan bupati pacitan alias buka paha tinggi-tinggi pasti ciptakan tantangan. Tak cuma bupati pacitan yang dilakoninya, sekwilda depok alias sekitar wilayah dada depan montok pun telah melambungkan namanya. Tak banyak yang komentar kala itu.
Seandainya masyarakat kita cerdas pasti apa yang dijual Julia Perez akan tak laku di pasaran. Kemunculannya sebagai kandidat calon pemimpin masyarakat tak perlu dipertentangkan. Justru akan menjadi tolak ukur indeks pembangunan manusia pada masyarakat tersebut. Jika pemimpinnya perampok ya masyarakatnya ‘kan ndak jauh-jauh dari kaum pencopet, pengutil, pemgemplang dan lain sebangsanya.
Dukungan secara pribadi saya kepada Julia Perez untuk menjadi bupati memang mungkin terlambat, namun itu jauh lebih baik bagi Jupe. Alih-alih jualan lagu belah duren berbonus alat kontrasepsi, menjadi pemimpin masyarakat akan jauh lebih terhormat bagi Jupe untuk kembali pada jalan yang benar.
Sekiranya ia gagal menjadi bupati dan pundi-pundi kekayaannya sudah habis untuk ongkos politik dan biaya pelumas mesin parpol, masih ada peluang bagi Jupe merintis karir di dunia selebritas dari nol lagi. Misalnya dengan mengikuti lomba mirip artis semacam the Promotor Trans TV sebab menurut saya wajah, penampilan, gesture, Jupe sangat mirip sekali dengan Chef Farah Quinn yang terkenal itu.Dan semoga predikat Jupe sebagai Sekwilda Depok perlahan menghilang dari ingatan publik.
Langganan:
Postingan (Atom)





