Jumat, 03 Juni 2011

Mari Bekerja!

“Ayah kapan punya penghasilan lagi?” rengek istriku di ambang sore. Aku menatap sorot matanya yang beku sambil kuseruput secangkir teh yang rasanya ternyata agak pahit. Bukan ini kali saja ia mengungkapkan hal itu, bukan pula maksudnya meminta tambahan uang belanja, dalam hatinya sebenarnya ia hanya ingin menanyakan dan memastikan kapan aku bekerja lagi.

Empat bulan sudah aku tidak menyandang status sebagai pekerja. Konsekuensinya aku tak punya penghasilan tetap yang mesti kusetor di akhir bulan. Setidaknya itu dalam pandangan istriku. Aku sendiri tidak menganggap diriku pengangguran. Selepas berhenti jadi pekerja tetap, seorang kawan lama memberi kabar dari ujung telepon “Ta, bisa ngajar di tempat bimbel gue nggak? Satu sessi satu setengah jam honornya Rp 50.000,00” Tak banyak komentar aku hanya menjawab Alhamdulillah dalam hati, “iya..gue bisa Za!”

Hari-hari pertama tanpa status sebagai seorang “pekerja” memang agak janggal bagiku. Tak ada kesibukan di pagi hari, tak ada bunyi mesin motor yang biasa kupanaskan. Aku malah sibuk bermain bersama kedua putriku yang masih kecil, “Ayah hari ini libur ya! Asyik de, kita bisa main bareng ayah..”. Aku hanya terdiam mendengar celetukan Kaka, putri sulungku. Celetukannya bagai kerikil yang mengganjal kerongkongan sehingga membuatku terdiam membisu. Lama kelamaan Kaka dan Dede tak lagi menanyakan “hari ini ayah libur ya?” karena saking terbiasanya kami menghabiskan waktu bersama.

Sebagai pengajar lepas di lembaga bimbingan belajar, honorku tergantung banyaknya jam mengajar. Beruntung kala itu aku banyak mendapat jatah karena siswa-siswi sedang sibuk menjelang ujian nasional. Namun selepas ujian nasional, kelas bimbel pun jadi sepi. Itu artinya tak ada lembaran rupiah yang mampir di sakuku. Ini jelas berbeda ketika aku masih punya pekerjaan tetap. Lembaran rupiah yang baru saja kuterima mengingatkanku pada kenangan empat-lima bulan sebelumnya.

“Andai ku tak membuat kesalahan fatal kala itu, tentu nasibku tak seperti ini” gumamku dalam hati. Memang seringkali dianggap klise jika desakan ekonomi membuat orang tak berpikir jernih. Itu pula yang kualami di tempat kerjaku yang dahulu. Penyesalan hadir menyeruak namun aku tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan. Aku menanggapi hal ini secara positif. Belajar memang selalu tidak diambil dari contoh yang benar, belajar dari contoh yang salah bahkan jauh lebih berkesan dan meninggalkan pengalaman yang tak terlupakan. “Orang yang berprestasi tinggi di bidangnya telah mendapatkan keuntungan dari kesalahannya dan mencoba lagi dengan cara yang berbeda, “ ungkap Dale Carniege seorang moivator dan pencetus gerakan sukses. Kata-kata itu jadi makin berarti bagiku kini.

Selain menjadi pengajar freelance, aku punya aktivitas lain. Kebetulan ada seorang kawan lama yang memintaku menyebarkan proposal ke sekolah-sekolah. Ia memintaku menawarkan program pelatihan guru dan beberapa produk yang mungkin dibutuhkan sekolah.

Pagi itu aku berangkat ke luar rumah walau masih gelap mesti ke mana. “Pokoknya ke luar rumah! Bergerak… berbuat sesuatu” Hati kecilku menguatkan. “Ayah mau kemana?” Tanya istriku. “Mau membuktikan ke dunia ‘Bun kalau aku hidup karena bergerak adalah salah satu tanda kehidupan!” lantang suaraku berharap meredakan kegelisahannya.

“Tapi hari ini bawa uang? Beras kita sudah habis loh” Tanyanya lagi. Rupanya kata-kataku belum mampu meredam kegelisahannya.

“Duh Gusti, aku mesti bilang apa?????” aku membisu, bibirku seolah enggan bergerak. Aku seolah kena skak mat.

“Kok diam? Berarti perginya belum bawa bekal tawakal…Inget ‘ga tausyiah kemarin kalau kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya Alloh akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki, dia berangkat pagi-pagi dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut terisi, hadist riwayat Tirmidzi” papar istriku diiringi senyuman.

“Tawakal memang perlu tapi ini juga jangan lupa dibawa…” lanjutnya seraya menyodorkan helm.

“Terima kasih, Bun…dorongannya membuat langkah ini jadi ringan, terasa naik motor yang baru di tune up!” Aku menyodorkan tangan yang lantas disambutnya dengan ucapan, “hati-hati Yah!!”

“Assalamu’alaikum”

“Wa ‘alaikum salam”

Sepanjang perjalanan aku terus melantunkan lagu memompa semangat. Aku mampir sebentar di sebuah masjid. Meredakan ketegangan, kuputuskan untuk sholat dhuha. Selepas dua rokaat kulanjutkan dengan tilawah Al Waqiah dan Yassin, sesuai petuah ayah mertua yang katanya manjur membantu kita keluar dari beragam masalah.

Aku pun mengecek nama-nama di phone book telepon selularku. Beberapa nama akhirnya kutemukan dan segera kukirim pesan singkat untuk bertemu. Alhamdulillah ada beberapa yang langsung memberi respon dan menyediakan waktu bertemu. Minimal proposal ini tersebar, urusan deal atau tidak biar Alloh yang menentukan. Waktu dhuha ini ternyata tak hanya memberiku rehat namun membuka pikiranku yang semula gelap. Aku bisa menelepon beberapa teman, mencari peluang prospek, atau sekedar menjalin kembali silaturahmi. Lucunya beberapa yang kuhubungi selalu membuka pembicaraan dengan bertanya, “sekarang kerja di mana? Lo lagi di mana nih, di kantor….?”. Aku biasanya tersenyum dan menjawab dengan formalitas, “oh gue sekarang wiraswasta, iya nih lagi di tempat kerja”. Padahal sebenarnya mereka tidak tahu, masjid, halte bis, atau warung pinggir jalan kini bisa menjadi tempat kerjaku. Dari sini aku bisa mengendalikan diriku, dari tempat-tempat itu kadang aku merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Kini aku merasa tak jauh berbeda dengan pekerja-pekerja lainnya, meski dileherku tak tergantung sebuah ID Card atau identitas lain layaknya pekerja.

Percaya atau tidak aku mulai menikmati kegiatan ini. Aku bahagia bukan kepalang. Seperti petuah seorang bijak, “Bukan kesuksesan yang membuat orang bahagia, kebahagiaanlah yang membuat orang menjadi sukses”. Itu yang kurasakan kini. Perlahan aku mulai melupakan kegelisahan menyandang status sebagai seorang jobless meski kata sukses kini jadi perdebatan dalam batinku.
Memang ada perasaan iri menyaksikan kisah-kisah sukses teman-teman yang setidaknya terlihat ketika ku iseng membuka facebook. Melalui foto profil atau lewat update status mereka aku menengarai bahwa mereka telah sukses, setidaknya dalam urusan pekerjaan.

Lagi-lagi aku dihadapkan pada kegelisahan, “Aku ini sekarang apa? Sudah jadi apa aku? Wah hebat ya si fulan? Dan sederet pertanyaan lain yang makin menenggelamkanku dalam penyesalan. Ya, penyesalan tentang caraku dalam bekerja. Betapa dahulu aku tak pernah menyadari bahwa sebenarnya tak ada jalan istimewa untuk mendapatkan kemenangan. Jalan yang harus ditempuh adalah rute lama, yang menuntut kerajinan dan ketekunan, begitu pesan Dr. Orison Sweet Marden Guru sukses pencetak guru-guru sukses semacam Dale Carniege, Anthony Robbins dan Stephen R Covey.

Aku beberapa kali pindah bekerja karena ketidaksabaran menapaki karir secara bertahap. Padahal bila lima tahun telah terlalu selepas aku lulus dari kampus, setidaknya aku kini menduduki jabatan setingkat supervisor di tempat kerjaku yang dahulu. Tapi apa lacur, dorongan menggebu untuk mendapatkan kemenangan tanpa diimbangi ketekunan dan kerajinan menyeretku ke pinggir jurang kegagalan.
Semestinya dahulu kurenungi dalam-dalam pesan penyair sentimentil Amerika Serikat, Hendry Wadworth Longfellow, “Ketinggian yang dicapai dan dipelihara oleh orang-orang besar tidaklah diperoleh dengan tiba-tiba. Ketika orang-orang lain terlelap, mereka bekerja keras di tengah malam”.

Bahkan kutipan Thomas Alfa Edison yang kerap kali kubaca, bahwa 90% keberhasilan ditentukan oleh kerja keras dan ketekunan, sementara 1% sisanya ditentukan oleh bakat dan kecerdasan nyatanya tak pernah meresap dalam sanubariku. Ia hanya jadi penghias kamarku sekedar pemanis ruangan.

Perjalananku hari ini terhenti ketika adzan dzhuhur memanggil. Hari mulai beranjak separuh penghabisan. Khusyuk kubermunajat jauh lebih dalam dari biasanya. Naluri manusia memang begitu adanya. Selalu benar-benar merasakan kehadiran Alloh dalam situasi sempit dan terjepit. Beruntung dalam suasana kebatinan yang tertekan ini aku masih merasakan butuhnya pertolongan Tuhan. Sementara di luar sana mungkin banyak yang mengambil jalan pintas, menyelesaikan hidup dengan cara konyol berharap bisa terlepas dari beban masalah. Tugasku kini menata kembali semangat, memperbaiki performa, dan fokus pada tujuan supaya kelak kehidupanku makin baik. Seperti petuah bijak seorang sufi terkemuka imam Al Qusayairi, “Siapa saja yang menduga bahwa apabila seseorang mencurahkan tenaganya untuk mencapai tujuan, berarti ia tertolong. Barangsiapa yang menduga tanpa jerih payah ia akan meraih tujuannya, berarti ia hanya berangan-angan”

Kamis, 16 Desember 2010

Mimpi-mimpi Garuda

“Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku….
ku yakin hari ini pasti menang.....................
kobarkan semangatmu, tunjukkan sportivitasmu
ku yakin hari ini pasti menang..........................”

Lirik lagu tersebut hari-hari belakangan ini nyaris menghiasi layar kaca pemirsa televisi kita. Segenap perhatian publik kini tertuju pada punggawa-punggawa kebanggaan bangsa di lapangan hijau. Tua muda, besar kecil, lelaki perempuan tumpah ruah memenuhi stadion GBK tatkala timnas bertanding saat penyisihan Piala AFF beberapa pekan lalu.
Kemenangan demi kemenangan yang diraih pasukan di bawah asuhan Alfred Riedl memunculkan sebuah harapan baru akan kebangkitan tim nasional sepakbola kita yang sekian lama miskin prestasi. Pelan tapi pasti perubahan yang diberikan pelatih asal Austria ini telah memberikan pengaruh yang positif bagi para pemain.
Tak dapat dipungkiri, selain berkat tangan dingin Riedl, keberhasilan tim nasional juga tak lepas dari peran supporter setianya. Jutaan pendukung merah Putih dengan lantang selalu menyanyikan lagu ”Garuda di Dadaku”. Lirik yang penuh motivasi dan dibawakan dengan ritme lagu bernada semangat telah melecut perjuangan Firman Utina dkk memberikan hasil terbaik bagi bangsanya.
Perhatikan bait demi bait lagu tersebut terutama pada lirik “ku yakin hari ini pasti menang” yang diulang dua kali. Sekian lama lagu itu telah dinyanyikan jauh sebelum kemenangan yang didapat hari-hari belakangan ini. Di setiap pertandingan atau turnamen resmi pendukung setia Merah Putih tak pernah iseng atau mengubah lirik itu dengan nada mengejek seperti misalnya, ”apakah hari ini kita menang?” atau ”kapan ya timnas kita bisa menang?”. Meski pada kenyataannya hasil yang didapat pada pertandingan itu tim nasional memang tidak memetik kemenangan, lagu itu tetap berkumandang dengan gempitanya.
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari fenomena ini? Mimpi untuk mendapat kemenangan memang tak boleh pupus dari ingatan kita. Ingat apa yang terjadi pada tim nasional Jepang? Jauh sebelum Piala Dunia 2002, Jepang telah memimpikan tim nasionalnya bisa berlaga di piala dunia. Maka dibuatlah film animasi Tsubasa yang bercerita tentang mimpi seorang anak Jepang yang ingin bermain bersama negaranya di piala dunia sepakbola. Kita semua tahu pada waktu itu sepakbola bukan merupakan olahraga populer di kalangan rakyat Jepang. Melalui film animasi Tsubasa, anak-anak jepang diberikan harapan bahwa suatu saat nanti tim nasional mereka bisa tampil di piala dunia. Kenyataan pun terbukti, walau tampil di piala dunia karena menjadi tuan rumah namun penampilan pemain Jepang juga tidak mengecewakan. Hidetoshi Nakata adalah salah satu bintang yang bersinar kala itu. Selepas Piala Dunia 2002, Jepang selalu menjadi langganan peserta piala dunia dua kali berturut-turut yaitu pada tahun 2006 dan 2010.
Sudah seharusnya lagu Garuda di Dadaku terus berkumandang memberikan semangat bagi pemain tim nasional. Lagu yang penuh mantra berisi motivasi. Lagu yang mengajarkan kita untuk terus memupuk keyakinan bahwa kemenangan pasti hari ini akan terjadi. Banyak ahli pengembangan diri menguraikan pentingnya memupuk impian. Sandy Mc Gregor dalam bukunya Piece of Mind mengatakan bahwa otak akan bekerja maksimal dalam frekuensi Alpha. Frekuensi Alpha dalam gelombang otak terjadi pada saat manusia dalam keadaan bermimpi, dengan kata lain antara tidur dan sadar.
Bermimpi tidak sama dengan menghayal. Impian adalah salah satu vitamin penting bagi otak yang akan memacu seluruh organ tubuh untuk bekerja, bergerak dan memberikan hasil yang maksimal. Tak heran, ulama sekaliber Hasan Al Banna juga berujar, ”Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari!” Biarkanlah garuda terbang bersama mimpi-mimpinya. Asal jangan mimpinya terbang bersama harapannya.

Kamis, 09 Desember 2010

Konsultasi Tukang Mie

Beratnya beban hidup membuat kami berfikir untuk mancari jalan keluar. Himpitan ekonomi dan sesaknya pikiran kami atas beragam masalah kehidupan telah membuat rumah tangga kami nyaris berantakan. Ribut soal kecil bisa merembet menjadi hal yang besar. Awalnya bukan gara-gara kami kurang uang, namun kami kurang kepercayaan satu sama lain. Sehingga masalah uang menjadi titik kulminasi dari segala debat kusir selama ini.
Kami pun berfikir untuk meperbaiki keadaan rumahtangga ini dengan memulai dari memperbaiki keadaan ekonomi. Selintas pikiran untuk berdagang muncul kemudian. Ingatan kami pun melambung pada sosok yang kami anggap menjadi figur sukses dalam bidang usaha. Kebetulan kami berdua penggemar mie ayam. Tepat di pinggir Jl. Raya Pahlawan Rempoa, Gintung Tangsel, ada satu pedagang mie ayam yang amat terkenal sejak istriku masih kecil, namanya Mie Ayam Kumis.
Mie ayam kumis memang laiknya seperti mie ayam yang di jual di gerobak pinggir jalan. Tak ada yang istimewa dari penampilan fisiknya, gerobak tua, beberapa kursi kayu memanjang dan terpal biru yang hampir robek. Namun banyak orang menggilai mie ayam ini.
Mie ayam kumis baru buka menjelang Ashar dan biasanya sudah habis menjelang isya. Terkadang bila suasana sedang ramai, anda datang maghrib pun sudah tak kebagian. Setelah banyak mencicipi mie ayam, saya memang menyium aroma berbeda dari mie ayam kumis, belum lagi taburan daging ayamnya yang diiris besar-besar serta mienya yang lentur membuat air liur kerap keluar saat membayangkannya.
Sore itu selepas menyantap mie ayam terakhir buatan Kumis-begitu biasa ia kami sapa- ada keinginan untuk mengobrol dengannya mengenai bisnis kuliner yang ia geluti. Awalnya agak ragu juga memulai pembicaraan namun akhirnya kami memberanikan diri.
"Mis, gue pengen ngobrol nih"
"Ngobrol apaan, dah sana pulang udah abis mie ayam gue mau beberes!" ujarnya santai
"Gue mau ngajak kerjasama bisnis" aku mencoba merayunya
"Bisnis apaan? MLM? nggak ah gua nggak tertarik, mending lu pulang aja" kali ini Kumis agak ketus
Aku pun sempat down namun istriku yang sudah faham karakter kumis menanggapinya dengan santai. "iya nih gue mau buka mie ayam juga"
Namun raut muka Kumis masih belum berubah antusias.
Hujan pun turun. Aku yang sedari tadi sudah ilfeel dengan gelagat Kumis hanya bisa mengelus dada. Dalam hati berkecamuk, "sombong nian ini orang"
aku dan istri kembali berteduh di bawah tenda mie ayam Kumis. tak disangka Kumis menghampiri dan berkata, "lo serius mau kerjasama sama gue?"
"Iyalah Mis, masa gue becanda!" senyum kami sontak mengembang
"Tapi lo mau nggak belajar?" tanya Kumis
"Ilmu dagang kaya begini mesti dipelajari, lo siap nggak?" katanya lagi
"Iyah Mis, gue siap!!" jawab kami
"Jangan siap,,siap doang loe"
"Loe pikir dagang itu enak??? lu dah ngerasain prihatin belon?"
"Loe jangan liat gue yang sekarang, emang loe pikir dagang itu gampang!"
"Justru itu Mis, kita mau belajar dari loe" kami pun meyakinkannya
"Sekarang loe ngejalanin sholat malam dulu, paling sedikit 41 malam jangan putus, kalau sampai 60 malam lebih bagus"
"Trus selama loe sholat malam, loe minta petunjuk sama Alloh. kalo loe nggak bisa bahasa arab ya udah pake bahasa Indonesia aja!"
"Emang loe pake bahasa arab Mis? " gelitikku
"Ya nggak, mana ngarti gue bahasa Arab! sekolah aja nggak selesai!" candanya
"Minta sama Alloh, kita bisa apa sih...kan cuma bisanya minta...." pesannya seperti mnggurui kami
"Trus setelah itu jangan sampai loe berbuat nggak jujur, misal loe nemu duit, duitnya jangan loe makan, amalin aja, kasih ke pengemis kek, trus kalau ada tamu main ke rumah, barangnya ketinggalan, ya dompet keke, hape kek, pulangin. '' panjang lebar ia menjelaskan
"Loe mau sukses, mau itu kerja, apa dagang atau sekolah syaratnya sebenarnya cuma tiga yaitu; jujur, berani dan rajin"
"Nah kalau udah ada petunjuk atau ilham emang loe mesti jalannya berdagang, baru lo lakonin tuh kerjaan dengan serius..."
"Loe jangan males, kalau belum ada pembeli seharian jangan nyerah, harus sabar...."
"Inget satu hal lagi, kalo ada orang datang minta-minta loe jangan bentak, sebisanya loe kasih duit. minta doanya....doa mereka manjur, loe tau kagak?"
"Iya mis, gue tahu..gue juga belajar agama!" kami mesem-mesem
"Ah loe belajar doang nggak pernah ngamalin sih, makanya loe susah..."
"Banyak kita liat orang belajar agama nggak ada ngaruhnya ama kehidupan dia, loe tanya tuh kenapa?" ujar Kumis bernada retoris
"Bencong aja pernah gue minta doanya biar usaha gue laris....apa gue pernah pikir bencong itu bakal diterima doanya sama Alloh?..."
"Nggak gue nggak mikir ke sono, itu biar urusan dia ama Alloh aja, yang penting hari itu dia bisa dapat rezeki melalui perantaraan gue...padahal cuma gue kasih seceng" Kumis bicara amat serius.
Kami terbuai mendengar tausyiahnya, tak menyangka kalau sosok pedagang mie yang kalau bicara ceplas-ceplos bahkan terkadang menjurus porno ini bisa menasehati seperti layaknya ustad
"Insya Alloh Mis, kita siap...kita juga mau berhasil kayak loe" kami menatapnya penuh harap.
"ah loe sekarang aja ngomong begitu karena loe lagi susah...apa gue bisa jamin loe juga bakal bisa ngelakoninnya kalau loe udah sukses?"
Kami terdiam.
"Nah loe nggak bisa jawab kan?" serobot Kumis
"Banyak orang datang ke gue ngajak kerjasama juga, bukan cuma yang susah kaya loe, yang duitnya segepok juga ada!"
"Tapi begitu gue tanya kaya tadi pada diem semua!"
"Nah sekarang loe pulang.....loe ngejalanin apa yang gue bilang tadi cepet sana...nunggu apa lagi????" nadanya gusar seolah ingin mengusir kami
Kami terdiam memaku. Kata-kata Kumis sedari tadi sudah memenuhi lubuk pikiranku. Ucapannya seolah menusuk kesadaran imanku. Apa yang dilontarkannya sedari tadi seolah mengingatkanku untuk berlaku rajin, jujur dan berani...tiga hal yang sekian lama lepas dari genggamanku

Jumat, 17 September 2010

Puisi Televisi

Televisi hari ini tidak sekedar menyala
Televisi hari ini sudah menyalak
Gonggongannya galak sekali
Melebihi galaknya polisi
Pagi buta telah mengganggu nyenyak tidur politisi
dan pejabat publik yang tersandung korupsi

Tapi di kabar pagi tak nampak lagi penyiar putri
yang biasa memandu dan memberondong pemberi informasi
kabarnya tersangkut masalah dengan polisi
akibat informannya salah menyanyi

Televisi hari ini tak lagi hitam putih
Penuh warna bergradasi dan sedikit manipulasi
Kaum uzurnya terlibat drama reality bertajuk korupsi
Kaum ibunya lalai memberi asi karena keasyikan cinta fitri
kaum mudanya tak lagi hafal lantunan barjanzi
malah asyik berjingkrak diiringi harmoni dipandu kaum banci

Televisi hari ini tak lagi memihak pada yang benar
tetapi memihak pada yang bayar
Televisi berita pertama memberi durasi lebih lama
pada pemilik modalnya kala berbicara
Televisi yang terdepan mengabarkan berita
Ditengarai terlibat skandal rekayasa
Televisi keluarga Indonesia malah tak lagi berpihak pada keluarga
Televisi kebanggaan bersama miliki bangsa
kini bakal jadi milik bangsa tetangga sebelah
Televisi yang isinya satu untuk semua malah semakin membuat jenuh pemirsa
Televisi milik kita bersama kini jadi milik keluarga pengusaha

Otakku masih dipenuhi banyak lagi televisi
kabel-kabelnya menjalar ke seluruh tubuh hingga ujung birahi
Dep0k, April 2010

Julia Perez Sekwilda Depok?

Hiruk pikuk pemilukada Depok, Oktober tahun ini nyaris tak seheboh seperti daerah lain. Pasalnya tak ada sosok kontroversial yang maju sebagai kandidat. Belakangan muncul rumors yang berkembang bahwa Julia Perez disebut-sebut bakal meramaikan panggung politik di Kota depok yang memang sedang adem ayem ini.

Menarik untuk disimak kiprah Julia Perez dalam pusaran politik beberapa tahun ini.
Setelah berhasil menggaet Gaston Castanyo -pesepakbola imigran yang merumput di Liga Super- Julia Perez pernah memikat politisi lokal Pacitan. Menjelang pemilukada tahun ini, namanya digadang-gadang untuk disandingkan dengan politisi dari beberapa aliansi partai gurem di sana sebagai orang nomor satu di tanah kelahiran SBY itu.

Awalnya Jupe –begitu biasa ia disapa- tak begitu menganggap rumor itu serius. Sebagai pesohor tentunya ia mahfum dengan strategi membuat issu agar diendus media. Namun akibat dihubungi oleh seorang artis senior yang belakangan diketahui bernama Reny Jayusman, Jupe tak bisa menampik tawaran itu. Kali ini Mbak Reni Jayusman memang sedang tidak jayus man! Ia benar-benar sedang serius. Seorang petinggi parpol di Pacitan yang kebetulan dekat Reny-lah yang menghubungi Jupe.

Sebelum maju menjadi cabup, sempat beredar transkrip pembicaraan antara Jupe dan tokoh parpol lokal. Berikut petikan transkrip rekaman pembicaraannya,
“Mbak Jupe…bagaimana siap untuk dicalonkan menjadi Bupati Pacitan?” tanya petinggi parpol tersebut.
“Saya tak kuasa menolak Mas kalau memang itu keinginan rakyat” jawab Jupe diplomatis.
“Sebenarnya ini keinginan arus bawah mbak…kita bukan hanya ingin memanfaatkan popularitas mbak semata,” petinggi parpol itu mencoba menyakinkan Jupe.
Jupe terdiam sejenak, pikirannya lantas melambung. “Ah…apakah ini benar keinginan arus bawah masyarakat atau arus bawah si bapak ini yang sudah kadung nafsu sama saya ya?” gumam Jupe dalam hati. Jemarinya terus memain-mainkan kabel telepon.
“Oke mbak jadi kapan kita bisa ketemu untuk berbicara lebih panjang?” desak suara dari ujung sana.
Jupe lantas sewot dan mencak-mencak, “Eh mas tolong ucapannya diralat ya! Kalau mau ketemu saya bukan untuk membicarakan yang lebih panjang, orang ketemu saya untuk membicarakan dan melihat yang lebih besar!”
Jupe pun menutup telepon dengan perasaan yang masih dongkol.
Akhirnya melalui serangkaian pendekatan yang intensif, pertemuan antara petinggi parpol dan tim sukses Jupe pun digelar. Para pemburu berita yang sedari tadi menunggu preskon akhirnya dapat bernafas dengan lega ketika salah seorang tim sukses merapikan meja. “Ehm maaf mas, jadi kapan jumpa persnya ya?” tanya salah seorang wartawan.
“Oh maaf mas saya cuma housekeeping” ucapnya sambil tersenyum simpul
Para wartawan kembali duduk-duduk diteras sambil menunduk. Rupanya bukan osteoporosis yang menyebabkan banyak di antara wartawan mengalami kelainan tulang punggung. Mereka tampaknya sedang sibuk ketrak-ketrik dengan telepon qwerty hanya untuk update statusnya di facebook dan twitter.

Jupe akhirnya angkat bicara. Tim suksesnya bahkan sengaja membalutnya dengan busana blazer ala Evita Peron agar kelihatan anggun. Bajunya bahkan kini nyaris sopan dan tidak kekurangan bahan lagi. Salah seorang wartawan bertanya, “Jup..Jup apakah anda memiliki pengalaman di birokrasi sebagai bekal menjadi pejabat publik?”
Jupe dengan tenang menjawab, “Saya adalah wanita yang paling memiliki pengalaman dan sejarah di birokrasi yang cukup lama. ”
“Waktu perceraian saya dengan pria asal Perancis saya sudah di birokrasi, saat mengalami pelakuan tak menyenangkan dengan ayah kandung saya, saya sudah di birokrasi…” ucapnya lirih sambil menahan air mata.
Para wartawan agak bingung dibuatnya. Sesekali diantara para wartawan menoleh kepada rekannya yang lain pertanda bingung.
“Maksudnya apa mbak, kami nggak ngerti!” salah seorang wartawan memberanikan bertanya.
“Eh..kalian wartawan infotainment gak pernah ikut diklat PWI ya?” serobot Jupe.
“ Pengalaman saya di birokrasi ya itu tadi, saya pernah di birokrasi alias di bikin robek karena dikerasi. .gimana apa mesti saya jelaskan lagi? Semprull!!”
Wartawan semakin bingung, belum sempat ditanya Jupe kahirnya nyerocos lagi,
“Nih denger ya..waktu nikah kan anu saya (maksud saya perasaan saya) di bikin robek karena dikerasi sama suami saya. Dia ternyata tak sebaik yang saya kira. Saat berumah tangga hati saya kembali di birokrasi alias di dibikin robek oleh suami saya. Tak cuma dikerasi saya malah, dilempari, ditampari, di-KDRT-i .Belum lagi waktu ayah kandung saya mau bunuh saya dan ibu saya….Bikin statement yang menyakiti di televisi, coba sudah di birokrasi apa lagi yang belum saya lakoni!!” tutur Jupe sambil berlinang air mata.

Para wartawan semua terdiam. Suasana mendadak hening. Dari belakang muncul perlahan suara tepuk tangan. Plok..Plok..satu dua tepuk tangan menyusul. Sayup-sayup tepuk tangan bergemuruh dan akhirnya membahana. Semua yang hadir pun ikut berdiri.
Esok hari headline koran dan tabloid mengangkat soal Julia Perez Bupati Pacitan. Sontak seantero negeri jadi gusar. Pihak yang kontra mengeluarkan pernyataan lebih pedas, “Pezina dilarang menjadi pemimpin!” Namun tak sedikit pula yang mendukung pemilik nama asli Yuliana Rahmawati ini.
Kaum pendukung Jupe meneriakkah yel-yel “Jupe Campeone..! Jupe Scudetto…!” oh maaf ini tampaknya pendukung Jupentus.

Sayang geliat semangat Jupe ternyata berhenti sudah. entah karena alasan apa, namanya akhirnya redup dan nyaris tak terdegar lagi.
Padahal tak ada alasan untuk tidak mendukung Julia Perez menjadi Bupati Pacitan. Orang-orang yang menolaknya adalah kaum munafik. Bukankah sedari awal kemunculannya Jupe sudah Bupati Pacitan? Mengapa baru sekarang dipertentangkan.

Lihatlah rekam jejak Jupe di panggung hiburan yang di awalinya dengan bupati pacitan alias buka paha tinggi-tinggi pasti ciptakan tantangan. Tak cuma bupati pacitan yang dilakoninya, sekwilda depok alias sekitar wilayah dada depan montok pun telah melambungkan namanya. Tak banyak yang komentar kala itu.

Seandainya masyarakat kita cerdas pasti apa yang dijual Julia Perez akan tak laku di pasaran. Kemunculannya sebagai kandidat calon pemimpin masyarakat tak perlu dipertentangkan. Justru akan menjadi tolak ukur indeks pembangunan manusia pada masyarakat tersebut. Jika pemimpinnya perampok ya masyarakatnya ‘kan ndak jauh-jauh dari kaum pencopet, pengutil, pemgemplang dan lain sebangsanya.

Dukungan secara pribadi saya kepada Julia Perez untuk menjadi bupati memang mungkin terlambat, namun itu jauh lebih baik bagi Jupe. Alih-alih jualan lagu belah duren berbonus alat kontrasepsi, menjadi pemimpin masyarakat akan jauh lebih terhormat bagi Jupe untuk kembali pada jalan yang benar.
Sekiranya ia gagal menjadi bupati dan pundi-pundi kekayaannya sudah habis untuk ongkos politik dan biaya pelumas mesin parpol, masih ada peluang bagi Jupe merintis karir di dunia selebritas dari nol lagi. Misalnya dengan mengikuti lomba mirip artis semacam the Promotor Trans TV sebab menurut saya wajah, penampilan, gesture, Jupe sangat mirip sekali dengan Chef Farah Quinn yang terkenal itu.Dan semoga predikat Jupe sebagai Sekwilda Depok perlahan menghilang dari ingatan publik.

Rabu, 01 September 2010

Melebarnya Masalah Pelebaran Jalan

Hari Sabtu dan Minggu biasanya aku habiskan untuk mengajak anak dan istriku ke luar rumah. Sebagai pekerja yang sangat sibuk, terkadang hari Sabtu dan Minggu memang sangat berharga bila dinikmati hanya untuk keluarga. Aku tak punya anggaran khusus mengajak mereka ke tempat rekreasi, paling banter ya mengajak mereka ke mal atau pusat perbelanjaan.

Namun impian menikmati hari libur justru buyar bila begitu keluar rumah sudah terjebak kemacetan. Seperti kala itu ketika kami berencana pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota Depok. Posisi rumah kami terletak di pinggiran kota Depok, yaitu Sawangan, praktis kami tak punya jalur alternatif menuju episentrum Kota Depok kecuali melalui jalan ini.

Meskipun kami menikmati perjalanan dengan kendaraan bermotor, perjalanan cukup memakan waktu lama. Pasalnya semenjak tersohornya Masjid Kubah Emas yang menjadi bagian dari ikon kota ini telah menyedot peziarah-peziarah dari luar kota. Mereka tak hanya menggunakan kendaraan pribadi namun juga bus-bus besar dengan jumlah rombongan yang tidak sedikit.

Memang kini Kota Depok -sebagai salah satu kota penyangga ibukota- telah mengalami percepatan pembangunan yang luar biasa. Tingginya minat masyarakat untuk tinggal di Depok telah membuat kota ini berbenah menyiapkan segala perangkat pendukung aktivitas warganya termasuk kebutuhan transportasi dan sarana jalan

Beragam upaya telah dilakukan Pemkot Depok guna meningkatkan kenyamanan warganya dalam berkendara. Hampir setiap ruas jalan utama di wilayah Depok telah mengalami perbaikan, misalnya dengan betonisasi, pengaspalan tambal sulam, atau pelebaran jalan, terrmasuk jalan Raya Sawangan yang sekarang tengah kami lewati ini

Selepas melewati jalan Raya Sawangan dengan menyisakan kejengkelan yang luar biasa, kami pun hampir tiba di lokasi yang di tuju. Namun alangkah kagetnya kami melihat berjubelnya pengunjung mal yang bersebelahan dengan Terminal Depok ini. Melalui sedikit negosiasi dengan istri akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi mal lain yang memang menjamur di sepanjang jalan Margonda Raya.

Perhatianku tertuju pada suasana jalan Margonda Raya yang kini terlihat lebih lapang. Geliat pembangunan di Kota Depok setidaknya tercermin dari hiruk-pikuk pekerja yang sedang melebarkan jalan sepanjang 5 km lebih ini. Kepulan asap kendaraan bercampur debu dan teriknya matahari siang itu telah menurunkan mood kami untuk menikmati akhir pekan ini.

Bagaimana tidak, sepanjang jalan tak lagi ku temui hamparan pohon rindang yang meneduhkan kota ini. Rupanya upaya perbaikan jalan, baik melalui betonisasi maupun pelebaran jalan menyisakan masalah yang cukup besar. Lihatlah jalan Margonda yang merupakan landmark Kota Depok yang kini terkesan gersang. Proyek pelebaran jalan Margonda Raya yang dibiayai APBD Provinsi Jabar telah merenggut ratusan pohon-pohon hijau di sepanjang jalan Margonda Raya. “Apakah tak ada upaya dari pemkot untuk mencari alternatif dengan menanam pohon pengganti?” gumamku dalam hati.

Sepeda motor tuaku masih mencoba mencari celah menghindari angkot-angkot yang seenaknya ngetem. Auhg..hampir saja ku lindas kaki seorang pejalan kaki. Maklum, akibat pelebaran jalan ini trotoar yang merupakan hak pejalan kaki akhirnya tergerus. Aku yang mencoba mengambil arah putar balik di kolong putaran UI melihat jelas sepanjang jalan Margonda Raya dari arah Jakarta mulai dari gerbang selamat datang hingga depan kampus Gunadarma tidak kutemukan trotoar sama sekali. Aku hanya bisa mengelus dada dan bertanya dalam hati “ Di mana rasa kemanusiaan pemerintah kota ini kepada warganya sendiri?”

Bisa dikatakan, sepanjang jalan Margonda Raya tersebut tidak memiliki bahu jalan, karena batas tepi jalan raya sangat mepet dengan tanah warga. Ini tentu sangat membahayakan tidak hanya bagi pejalan kaki namun juga pengendara kendaraan bermotor, seperti aku dan mungkin banyak pengguna kendaraan lainnya.
Semestinya Pemkot Depok memiliki komitmen untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang berpihak pada lingkungan hidup dan kemanusiaan, seperti yang sudah dijalani di beberapa daerah lain sebagai bagian dari komitmen terhadap kesepakatan perubahan iklim di Bali beberapa tahun lalu. Apalagi jalan Margonda Raya sebagai ikon kota Depok menjadi semacam etalase yang mencerminkan sikap dan perilaku warga dan pemerintah Kota Depok.

Aku lantas melambungkan ingatanku kepada suasana di jalan Sudirman atau Thamrin di Kota Jakarta yang masih terlihat hijau dan teduh karena masih memiliki pohon-pohon yang rindang. Selain itu di sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin memiliki trotoar yang amat luas bagi pejalan kaki. Belum lagi jika mengenang suasana Jakarta di hari tanpa kendaraan dan menikmati berjalan-jalan di sepanjang jalan itu. Ooh alangkah nyamannya…

Namun lamunanku kembali buyar karena mendadak ada angkot yang berhenti tiba-tiba. “Huff..hampir saja,” gumamku. Istriku pun akhirnya angkat bicara, “Ayah, gimana sih bawa motornya ngelamun melulu makanya jangan ngeliatin cewek terus mentang-mentang lewat kampus…” Bisingnya suara istriku mirip bising knalpot motorku yang tak lulus uji emisi.

Memang harus kuakui dengan pelebaran jalan ini telah membuat masalah kepadatan lalu lintas di Margonda Raya dapat diurai terutama pada jam-jam sibuk. Setelah jam sibuk pada pagi dan menjelang sore hari praktis jalan Margonda Raya memang terlihat cukup lancar, namun pada hari-hari libur seperti Sabtu dan Minggu justru kemacetan terjadi utamanya di sekitar pusat-pusat perbelanjaan yang terbentang sepanjang jalan Margonda Raya. Dengan demikian pelebaran jalan menjadi kontraproduktif dan malah menimbulkan masalah baru.

Tak terasa perjalananku telah mencapai tujuan. Selintas ku menatap baliho besar bergambar pak walikota yang selalu tersenyum. Entahlah yang pasti senyumannya seolah menertawai penderitaanku. Kabarnya selepas ini pejabat yang dijuluki “walikota baliho” akan maju lagi dalam pemilukada tahun ini. Aku sendiri tak yakin apakah kehadirannya kembali memimpin kota ini mampu menata kota ini jauh lebih baik puluhan tahun ke depan.
Apalagi jika jajaran pejabat di bawahnya hanya berpikir pragmatis mengurai masalah kota dengan pendekatan simsalabim. Seperti misalnya mengurai masalah kemacetan dengan menjadikan penambahan ruas jalan atau pelebaran jalan sebagai fokus utama.

Buatku yang terpenting adalah bagaimana pemerintah menyiapkan sarana transportasi massal yang aman dan nyaman bagi warganya, bukan sekedar menambah ruas jalan. Sehingga banyak warga akan beralih dari kendaraan pribadi dan memilih menggunakan transportasi umum. Kalaupun pada akhirnya memilih pelebaran jalan sebagai solusi semestinya juga diiringi oleh pelebaran ruang publik dan tanpa menebang pohon-pohon di sepanjang jalan yang diperlebar. Hal itu merupakan cerminan keberpihakan pemerintah kota kepada lingkungan hidup dan kemanusiaan.

Selain itu pemerintah juga perlu membatasi kepemilikan kendaraan pribadi atau menetapkan pajak yang besar sehingga tak banyak kendaran wara-wari di sepanjang jalan. Apa gunanya jalan di perlebar kalau kendaraan juga makin banyak, iya khan?
Hentakan gas motorku terasa semakin berat, psstt…pssst.. terdengar sayup ban motorku kempes. Oalah…gara-gara banyak jalan hanya dibeton saja tanpa diaspal, ban vulkanisir motorku kini jadi semakin menipis. Aku pun menepikan motor dan menikmati akhir pekan di tempat tambal ban. Beruntung istriku tak lagi menggerutu karena masih asyik update status dari handphone baru pemberianku.

Melebarnya Masalah Pelebaran Jalan

Hari Sabtu dan Minggu biasanya aku habiskan untuk mengajak anak dan istriku ke luar rumah. Sebagai pekerja yang sangat sibuk, terkadang hari Sabtu dan Minggu memang sangat berharga bila dinikmati hanya untuk keluarga. Aku tak punya anggaran khusus mengajak mereka ke tempat rekreasi, paling banter ya mengajak mereka ke mal atau pusat perbelanjaan.

Namun impian menikmati hari libur justru buyar bila begitu keluar rumah sudah terjebak kemacetan. Seperti kala itu ketika kami berencana pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota Depok. Posisi rumah kami terletak di pinggiran kota Depok, yaitu Sawangan, praktis kami tak punya jalur alternatif menuju episentrum Kota Depok kecuali melalui jalan ini.

Meskipun kami menikmati perjalanan dengan kendaraan bermotor, perjalanan cukup memakan waktu lama. Pasalnya semenjak tersohornya Masjid Kubah Emas yang menjadi bagian dari ikon kota ini telah menyedot peziarah-peziarah dari luar kota. Mereka tak hanya menggunakan kendaraan pribadi namun juga bus-bus besar dengan jumlah rombongan yang tidak sedikit.

Memang kini Kota Depok -sebagai salah satu kota penyangga ibukota- telah mengalami percepatan pembangunan yang luar biasa. Tingginya minat masyarakat untuk tinggal di Depok telah membuat kota ini berbenah menyiapkan segala perangkat pendukung aktivitas warganya termasuk kebutuhan transportasi dan sarana jalan
Beragam upaya telah dilakukan Pemkot Depok guna meningkatkan kenyamanan warganya dalam berkendara. Hampir setiap ruas jalan utama di wilayah Depok telah mengalami perbaikan, misalnya dengan betonisasi, pengaspalan tambal sulam, atau pelebaran jalan, terrmasuk jalan Raya Sawangan yang sekarang tengah kami lewati ini

Selepas melewati jalan Raya Sawangan dengan menyisakan kejengkelan yang luar biasa, kami pun hampir tiba di lokasi yang di tuju. Namun alangkah kagetnya kami melihat berjubelnya pengunjung mal yang bersebelahan dengan Terminal Depok ini. Melalui sedikit negosiasi dengan istri akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi mal lain yang memang menjamur di sepanjang jalan Margonda Raya.

Perhatianku tertuju pada suasana jalan Margonda Raya yang kini terlihat lebih lapang. Geliat pembangunan di Kota Depok setidaknya tercermin dari hiruk-pikuk pekerja yang sedang melebarkan jalan sepanjang 5 km lebih ini. Kepulan asap kendaraan bercampur debu dan teriknya matahari siang itu telah menurunkan mood kami untuk menikmati akhir pekan ini.

Bagaimana tidak, sepanjang jalan tak lagi ku temui hamparan pohon rindang yang meneduhkan kota ini. Rupanya upaya perbaikan jalan, baik melalui betonisasi maupun pelebaran jalan menyisakan masalah yang cukup besar. Lihatlah jalan Margonda yang merupakan landmark Kota Depok yang kini terkesan gersang. Proyek pelebaran jalan Margonda Raya yang dibiayai APBD Provinsi Jabar telah merenggut ratusan pohon-pohon hijau di sepanjang jalan Margonda Raya. “Apakah tak ada upaya dari pemkot untuk mencari alternatif dengan menanam pohon pengganti?” gumamku dalam hati.

Sepeda motor tuaku masih mencoba mencari celah menghindari angkot-angkot yang seenaknya ngetem. Auhg..hampir saja ku lindas kaki seorang pejalan kaki. Maklum, akibat pelebaran jalan ini trotoar yang merupakan hak pejalan kaki akhirnya tergerus. Aku yang mencoba mengambil arah putar balik di kolong putaran UI melihat jelas sepanjang jalan Margonda Raya dari arah Jakarta mulai dari gerbang selamat datang hingga depan kampus Gunadarma tidak kutemukan trotoar sama sekali. Aku hanya bisa mengelus dada dan bertanya dalam hati “ Di mana rasa kemanusiaan pemerintah kota ini kepada warganya sendiri?”

Bisa dikatakan, sepanjang jalan Margonda Raya tersebut tidak memiliki bahu jalan, karena batas tepi jalan raya sangat mepet dengan tanah warga. Ini tentu sangat membahayakan tidak hanya bagi pejalan kaki namun juga pengendara kendaraan bermotor, seperti aku dan mungkin banyak pengguna kendaraan lainnya.
Semestinya Pemkot Depok memiliki komitmen untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang berpihak pada lingkungan hidup dan kemanusiaan, seperti yang sudah dijalani di beberapa daerah lain sebagai bagian dari komitmen terhadap kesepakatan perubahan iklim di Bali beberapa tahun lalu. Apalagi jalan Margonda Raya sebagai ikon kota Depok menjadi semacam etalase yang mencerminkan sikap dan perilaku warga dan pemerintah Kota Depok.

Aku lantas melambungkan ingatanku kepada suasana di jalan Sudirman atau Thamrin di Kota Jakarta yang masih terlihat hijau dan teduh karena masih memiliki pohon-pohon yang rindang. Selain itu di sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin memiliki trotoar yang amat luas bagi pejalan kaki. Belum lagi jika mengenang suasana Jakarta di hari tanpa kendaraan dan menikmati berjalan-jalan di sepanjang jalan itu. Ooh alangkah nyamannya…

Namun lamunanku kembali buyar karena mendadak ada angkot yang berhenti tiba-tiba. “Huff..hampir saja,” gumamku. Istriku pun akhirnya angkat bicara, “Ayah, gimana sih bawa motornya ngelamun melulu makanya jangan ngeliatin cewek terus mentang-mentang lewat kampus…” Bisingnya suara istriku mirip bising knalpot motorku yang tak lulus uji emisi.

Memang harus kuakui dengan pelebaran jalan ini telah membuat masalah kepadatan lalu lintas di Margonda Raya dapat diurai terutama pada jam-jam sibuk. Setelah jam sibuk pada pagi dan menjelang sore hari praktis jalan Margonda Raya memang terlihat cukup lancar, namun pada hari-hari libur seperti Sabtu dan Minggu justru kemacetan terjadi utamanya di sekitar pusat-pusat perbelanjaan yang terbentang sepanjang jalan Margonda Raya. Dengan demikian pelebaran jalan menjadi kontraproduktif dan malah menimbulkan masalah baru.

Tak terasa perjalananku telah mencapai tujuan. Selintas ku menatap baliho besar bergambar pak walikota yang selalu tersenyum. Entahlah yang pasti senyumannya seolah menertawai penderitaanku. Kabarnya selepas ini pejabat yang dijuluki “walikota baliho” akan maju lagi dalam pemilukada tahun ini. Aku sendiri tak yakin apakah kehadirannya kembali memimpin kota ini mampu menata kota ini jauh lebih baik puluhan tahun ke depan. Apalagi jika jajaran pejabat di bawahnya hanya berpikir pragmatis mengurai masalah kota dengan pendekatan simsalabim. Seperti misalnya mengurai masalah kemacetan dengan menjadikan penambahan ruas jalan atau pelebaran jalan sebagai fokus utama.

Buatku yang terpenting adalah bagaimana pemerintah menyiapkan sarana transportasi massal yang aman dan nyaman bagi warganya, bukan sekedar menambah ruas jalan. Sehingga banyak warga akan beralih dari kendaraan pribadi dan memilih menggunakan transportasi umum. Kalaupun pada akhirnya memilih pelebaran jalan sebagai solusi semestinya juga diiringi oleh pelebaran ruang publik dan tanpa menebang pohon-pohon di sepanjang jalan yang diperlebar. Hal itu merupakan cerminan keberpihakan pemerintah kota kepada lingkungan hidup dan kemanusiaan.

Selain itu pemerintah juga perlu membatasi kepemilikan kendaraan pribadi atau menetapkan pajak yang besar sehingga tak banyak kendaran wara-wari di sepanjang jalan. Apa gunanya jalan di perlebar kalau kendaraan juga makin banyak, iya khan?
Hentakan gas motorku terasa semakin berat, psstt…pssst.. terdengar sayup ban motorku kempes. Oalah…gara-gara banyak jalan hanya dibeton saja tanpa diaspal, ban vulkanisir motorku kini jadi semakin menipis. Aku pun menepikan motor dan menikmati akhir pekan di tempat tambal ban. Beruntung istriku tak lagi menggerutu karena masih asyik update status dari handphone baru pemberianku.